Malam menyambut. Di
sebuah cafe bergaya klasik simple, yang mana arsitekturnya lebih dominan warna
cream, kuning dan cokelat muda kulihat seorang gadis bule yang tinggi semampai,
duduk disalah satu meja dan bangku yang tertata rapi, yang rata-rata menggunakan
sofa dan materi kayu untuk furniturnya. Di bawah sinar lampu yang tidak begitu
terang, di iringi nuansa yang minimalis dan tenang ia nampak begitu cantik
walau sedang terttidur. Bukan karena aku pegawai di cafe itu, melainkan karena
naluri lelakiku yang tak bisa membiarkan seorang gadis cantik tidur di sudut
cafe, aku lantas menghampirinya.
“ Excuse me, Miss?” aku
sedikit menunduk, mencari celah untuk melihat wajahnya.
“ Excuse me.....” aku
mengulangnya lagi.
“ Oh.. ya..” jawabnya.
Kurasa ia sedikit bisa berbahasa Indonesia.
Tanpa mengatakan
kalimat apa-apa lagi, iapun beringsut, sambil jalan sempoyongan dan menahan
beban tubuhnya yang di ganjal sepatu high geels, ia keluar dari cafe. Di dekat
pintu, ia melambai padaku.
“Thanks.” Tuturnya
singkat.
Aku yakin, ia pasti
langsung menuju salah satu hotel di dekat sini, bila tidak, ia akan menuju tepi
pantai yang berada dekat, beberapa meter di depan cafe ini. Aku pula kembali
kebalik meja barku.
Dimalam berikutnya,
gadis bule itu menyambangi cafe tempatku bekerja lagi. Kini, ia duduk di depan
meja bar, sambil menenggak beberapa gelas kecil minuman tak beralkohol. Ia
sosok gadis bule yang sangat cantik. Postur tubuhnya tinggi, seksi, matanya
biru, rambutnya pula berwarna pirang, dan di balut gaun warna biru gelap yang
indah, ia nampa elegan.
“ You speak
Indonesian?” (kamu bisa berbicara bahasa
Indonesia?) tanyaku.
“Tolerable,” (lumayan) jawabnya sambil menikmati
minuman di depannya. Aku yakin, ia mengetahui bahwa minuman itu tak beralkohol.
Sejak perkenalan itu, kami
sering bercengkrama dan mengobrol dengan akrabnya. Bahkan bila tidak bertemu
sehari, di selalu berkata “I miss you” padaku. Dari situ aku mengetahui, bahwa
gadis keturunan itali-inggris ini bernama Anabelle, sudah hampir setahun ia
berada di sini. Ia juga baru saja lulus dari sebuah universitas di Inggris, dan
menikmati liburnya yang terlampau panjang di Indonesia ini.
Pada suatu malam. Aku
mencari-cari Anabelle yang tak kujumpa sehari ini. Aku menyusuri tepi pantai
tempat kesukaan Anabelle nongkrong di
malam minggu. Dan kutemui juga, di sudut pantai yang sepi dan remang, Anabelle
sedang bersama beberapa teman bulenya sedang berpesta ria, menenggak minuman
beralkohol. Aku baru mengamati dari kejauhan. Dan kulihat, Anabelle di ajak
menyepi oleh teman bule prianya yang tak kutahu siapa namanya.
Ketika kuperhatikan,
Anabelle mulai berbuat tak senonoh dan tidak semestinya, ia membuka baju
bersama lelaki itu. Aku amat terkejut. Aku berlari menghampirinya.
“What are you doing
with him? You drunk! Anabelle,” (Apa yang
sedang kau lakukan dengannya? Kau mabuk, Anabelle) sergahku.
“ What’s wrong with me,
Dewa?” (Apa yang salah denganku, Dewa?)
“No, you cann’t do that
Anabelle that is not good for local community, so please put on your dress
now!” (Tidak, kau tidak dapat berlau
demikian Anabelle, ini tidak baik bagi komunitas lokal, jadi kumohon pakailah
bajumu).
“Tidak! Aku tidak ingin
menurutimu, Dewa!”
“Baiklah! Namun
setidaknya, jangan kau lakukan disini! Pergilah ke tempat lain! Not in here! But in there!” nadaku
semakin meninggi.
“Why?”
Lelaki bule itu lantas
pergi meninggalkan Anabelle. Mungkin ia bising dengan kegadunhan yang kubuat.
“Tell me, kenapa kau melakukan ini padaku, Dewa?” tanyanya, matanya
mengerjap-erjap, sedikit sembab.
“Karena kau dalah
temanku, you are my friend,” jawabku.
“But why?” (tapi kenapa?)
“Because I heart you,”
(Aku menyukaimu)
“I heart you too.....”
Aku sontak kaget.
Benarkah ini! Anabelle juga menyukaiku. Aku lantas duduk disampingnya, dan
memeberikan gaun yang tergeletak itu pada Anabelle untuk segera dikenakan
kembali.
“Kenapa kau ingin
melakukan hal tersebut dengan lelaki itu?” tanyaku.
“Karena aku ingin
mendapatkan sebuah cinta, yang tak pernah aku dapatkan dari siapapun didunia
ini. Even Dad and Mom as well (Bahkan
ayah dan ibu juga),” terangnya.
“Mengapa dengan seperti
ini? Tidakkah kau tahu apakah lelaki itu mencintaimu atau tidak?”
“No, I don’t know. Aku tidak tahu, ia mencintaiku atau tidak.”
“Look at me, lihat aku,
kau dapat menemukan cinta dalam diriku. Mengapa? Why?”
Anabelle hanya
menggelengkan kepalnya.
“Because you are Anabelle, karena kamu Anabelle,” aku menyentuh
kedua pundak Anabelle, ia pula menatapku dalam.
“I’m Anabelle?” (Aku Anabelle?)
“Ya, Anabelle who need to be loved, Anabelle
yang patut untuk di cintai, bukan di permainkan. Seperti di malam valentine
yang penuh cinta kasih ini.”
“You are right! Anabelle means
lovable, patut dicintai. In italian
language, (dalam bahasa italia)”
Anabelle mengembangkan
senyumnya, di tepi pantai di malam valentine yang begitu indah. Awan berarak
tertiup angin, sekejap-kejap bintang tertutup oleh meganya, kemudian muncul
kembali dari balik mega gelap itu. Anabelle melayangkan sebuah ciuman di
bibirku, aku tidak menyangkanya, dan gelagapan, namun naluri lelakiku langsung
muncul, dan akupun membalas ciuman di malam valentine itu.
-selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar