Senin, 04 November 2013

Because you are Anabelle!


Malam menyambut. Di sebuah cafe bergaya klasik simple, yang mana arsitekturnya lebih dominan warna cream, kuning dan cokelat muda kulihat seorang gadis bule yang tinggi semampai, duduk disalah satu meja dan bangku yang tertata rapi, yang rata-rata menggunakan sofa dan materi kayu untuk furniturnya. Di bawah sinar lampu yang tidak begitu terang, di iringi nuansa yang minimalis dan tenang ia nampak begitu cantik walau sedang terttidur. Bukan karena aku pegawai di cafe itu, melainkan karena naluri lelakiku yang tak bisa membiarkan seorang gadis cantik tidur di sudut cafe, aku lantas menghampirinya.
“ Excuse me, Miss?” aku sedikit menunduk, mencari celah untuk melihat wajahnya.
“ Excuse me.....” aku mengulangnya lagi.
“ Oh.. ya..” jawabnya. Kurasa ia sedikit bisa berbahasa Indonesia.
Tanpa mengatakan kalimat apa-apa lagi, iapun beringsut, sambil jalan sempoyongan dan menahan beban tubuhnya yang di ganjal sepatu high geels, ia keluar dari cafe. Di dekat pintu, ia melambai padaku.
“Thanks.” Tuturnya singkat.
Aku yakin, ia pasti langsung menuju salah satu hotel di dekat sini, bila tidak, ia akan menuju tepi pantai yang berada dekat, beberapa meter di depan cafe ini. Aku pula kembali kebalik meja barku.
Dimalam berikutnya, gadis bule itu menyambangi cafe tempatku bekerja lagi. Kini, ia duduk di depan meja bar, sambil menenggak beberapa gelas kecil minuman tak beralkohol. Ia sosok gadis bule yang sangat cantik. Postur tubuhnya tinggi, seksi, matanya biru, rambutnya pula berwarna pirang, dan di balut gaun warna biru gelap yang indah, ia nampa elegan.
“ You speak Indonesian?” (kamu bisa berbicara bahasa Indonesia?) tanyaku.
“Tolerable,” (lumayan) jawabnya sambil menikmati minuman di depannya. Aku yakin, ia mengetahui bahwa minuman itu tak beralkohol.
Sejak perkenalan itu, kami sering bercengkrama dan mengobrol dengan akrabnya. Bahkan bila tidak bertemu sehari, di selalu berkata “I miss you” padaku. Dari situ aku mengetahui, bahwa gadis keturunan itali-inggris ini bernama Anabelle, sudah hampir setahun ia berada di sini. Ia juga baru saja lulus dari sebuah universitas di Inggris, dan menikmati liburnya yang terlampau panjang di Indonesia ini.
Pada suatu malam. Aku mencari-cari Anabelle yang tak kujumpa sehari ini. Aku menyusuri tepi pantai tempat kesukaan Anabelle nongkrong di malam minggu. Dan kutemui juga, di sudut pantai yang sepi dan remang, Anabelle sedang bersama beberapa teman bulenya sedang berpesta ria, menenggak minuman beralkohol. Aku baru mengamati dari kejauhan. Dan kulihat, Anabelle di ajak menyepi oleh teman bule prianya yang tak kutahu siapa namanya.
Ketika kuperhatikan, Anabelle mulai berbuat tak senonoh dan tidak semestinya, ia membuka baju bersama lelaki itu. Aku amat terkejut. Aku berlari menghampirinya.
“What are you doing with him? You drunk! Anabelle,” (Apa yang sedang kau lakukan dengannya? Kau mabuk, Anabelle) sergahku.
“ What’s wrong with me, Dewa?” (Apa yang salah denganku, Dewa?)
“No, you cann’t do that Anabelle that is not good for local community, so please put on your dress now!” (Tidak, kau tidak dapat berlau demikian Anabelle, ini tidak baik bagi komunitas lokal, jadi kumohon pakailah bajumu).
“Tidak! Aku tidak ingin menurutimu, Dewa!”
“Baiklah! Namun setidaknya, jangan kau lakukan disini! Pergilah ke tempat lain! Not in here! But in there!” nadaku semakin meninggi.
“Why?”
Lelaki bule itu lantas pergi meninggalkan Anabelle. Mungkin ia bising dengan kegadunhan yang kubuat.
Tell me, kenapa kau melakukan ini padaku, Dewa?” tanyanya, matanya mengerjap-erjap, sedikit sembab.
“Karena kau dalah temanku, you are my friend,” jawabku.
“But why?” (tapi kenapa?)
“Because I heart you,” (Aku menyukaimu)
“I heart you too.....”
Aku sontak kaget. Benarkah ini! Anabelle juga menyukaiku. Aku lantas duduk disampingnya, dan memeberikan gaun yang tergeletak itu pada Anabelle untuk segera dikenakan kembali.
“Kenapa kau ingin melakukan hal tersebut dengan lelaki itu?” tanyaku.
“Karena aku ingin mendapatkan sebuah cinta, yang tak pernah aku dapatkan dari siapapun didunia ini. Even Dad and Mom as well (Bahkan ayah dan ibu juga),” terangnya.
“Mengapa dengan seperti ini? Tidakkah kau tahu apakah lelaki itu mencintaimu atau tidak?”
No, I don’t know. Aku tidak tahu, ia mencintaiku atau tidak.”
“Look at me, lihat aku, kau dapat menemukan cinta dalam diriku. Mengapa? Why?”
Anabelle hanya menggelengkan kepalnya.
Because you are Anabelle, karena kamu Anabelle,” aku menyentuh kedua pundak Anabelle, ia pula menatapku dalam.
“I’m Anabelle?” (Aku Anabelle?)
“Ya, Anabelle who need to be loved, Anabelle yang patut untuk di cintai, bukan di permainkan. Seperti di malam valentine yang penuh cinta kasih ini.”
You are right! Anabelle means lovable, patut dicintai. In italian language, (dalam bahasa italia)”
Anabelle mengembangkan senyumnya, di tepi pantai di malam valentine yang begitu indah. Awan berarak tertiup angin, sekejap-kejap bintang tertutup oleh meganya, kemudian muncul kembali dari balik mega gelap itu. Anabelle melayangkan sebuah ciuman di bibirku, aku tidak menyangkanya, dan gelagapan, namun naluri lelakiku langsung muncul, dan akupun membalas ciuman di malam valentine itu.

-selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar