Jajaran
pohon di pinggir jalan terlewat begitu saja. Seolah tanpa permisi, bus yang aku
tumpangi melaju kencang mendahului kendaraan lain yang ada di depannya. Sang
kondektur bus berdiri santai di bibir pintu dengan memegangi gagang pintu yang
tertutup itu. Seketika, ia merogoh saku kiri celananya. Sebungkus rokokpun
keluar, lalu ia merogoh-rogoh saku-sakunya yang lain. tak ditemukan sebuah
korek nampaknya. Iapun meminta korek pada sosok yang ia panggil dengan sebutan
“Bos”, tak lain seorang lelaki paruh baya, dengan kacamata hitam yang duduk di
belakang kemudi bus. Perawakannya kekar, dahinya nampak luas karena sebagian
rambutnya telah botak, dan ada beberapa tato di lengan kirinya. Tato itu tampak
sekadar coretan gambar tak berseni. Pasalnya, hanya tergambar sosok tertawa
lebar lalu garis-garis entah apa yang tak dapat aku pahami.
Pandanganku kemudian aku lempar
keluar jendela bus. Ketika itu bus yang aku tumpangi melewati sebuah pabrik
yang ada di kota Ungaran. Puluhan, atau bahkan ratusan sepeda motor memadati
parkiran pabrik, tentu itu motor-motor milik karyawan pabrik. Parkiran itu
hanya terhias beberapa pohon yang tidak begitu tinggi, dan tidak pula begitu
lebat daunnya. Hanya terdiri dari ranting kecil dengan daun-daun jarang. Kaca
spion dari motor-motor itu menyorot kesegala arah. Tampak putih menyilaukan.
Beberapa yang kuduga adalah karyawan pabrik, berbondong-bondong keluar dari
gedung produksi itu. Kupikir juga, itu adalah jam istirahat bagi mereka. Dengan
seragam baju warna putih, serta bawahan bebas itu. Kulihat sosok lelaki
berjalan cepat menuju warung nampaknya, diikuti oleh seorang wanita
dibelakangnya. Entah ada hubungan apa mereka, atau hanya khayalanku saja yang
mereka-reka cerita.
Tiba-tiba bus yang aku tumpangi
berhenti. Aku melihat kearah depan, mencoba mendongakkan kepala, memeriksa apa
yang terjadi. Ternyata terjadi kemacetan didepan. Pak sopir pula mendongakkan
kepala keluar jendela bus. Ia memeriksa keadaan didepan. Ternyata ada perbaikan
jalan yang tak kunjung usai sampai sekarang. Iapun menggelengkan kepala.
Sedikit demi sedikit bus yang aku tumpangipun berjalan. Setelah berselang cukup
lama, akhirnya bus ini terlepas dari kemacetan.
Angin yang menerobos dari atas bus
membuat aku merasakan kantuk. Namun segera aku uang perasaan ngantuk tersebut.
Pasalnya, aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginan diatas bus ekonomi
ini, seperti yang diceritakan kakak kosku. Kemudian, aku melempar pandang
keluar jendela lagi. Nampaknya pasar itu telah dirubuhkan, pasalnya terdapat
sebuah buldoser diatas bangunan yang telah rata dengan tanah itu. Memang
beberapa waktu yang lalu, bangunan pasar itu mengalami kebakaran. Aku jadi
teringat dengan pasar didaerahku yang baru-baru ini juga mengalami kebakaran,
hingga para pedagangya diungsikan ke jalan raya yang telah ditutup dan dibangun
tenda darurat. Banyak isu yang beredar, mengatakan kalau pasar itu dibakar oleh
satpam setempat, atau pada intinya oleh orang dalam. Namun itu baru sekadar
rumor. Walau demikian, si satpam yang dituduh membakar pasar, tidak pernah
menampakkan batang hidungnya. Hal ini kian menambah keyakinan warga bahwa ialah
yang membakar pasar itu. Akan tetapi, sampai penyelidikan tentang penyebab
terjadinya kebakaran selesai, masih belum bisa dipastikan bahwa pasar itu
sengaja dibakar oleh seseorang. Hingga kini, kasus kebakaran itu masih
ditangani di Ibu kota provinsi jawa tengah, yaitu kota Semarang.
Sepanjang perjalanan, para pengamen
hilir mudik mengamen ditas bus ekonomi dengan penumpang yang cenderung berjubel
itu. Mereka menengadahkan tangan beberapa saat usai mereka menyanyi. Ada pula
yang menggunakan topinya atau kaleng. Namun ada pula yang mengemis dengan
metode amplop kecil dengan beberapa larik tulisan permohonan. Namun nahasnya,
dari balik jendela, aku melihat sekelompk orang menarikan tarian jaran kepas
dipingggir jalan. Setelah itu, mereka menghampiri mobil-mobil yang berhenti
dilampu merah dan menengadah pula dengan menggunakan besek, dan beberapa
rupiahpun tergeletak disana.
Tanpa terasa, akhirnya bus ini
sampai juga diterminal. Akupun turun dan berjalan kearah bangku panjang di tepi
terminal itu. Aku bermaksud untuk menunggu bus selanjutnya yang memiliki
jurusan ke arah rumahku. Ketika aku baru saja duduk, dan meletakkan tas
punggungku. Seorang nenek tua bersama cucunya menghampiriku.
“Bagi rezekinya sedikit mbak?”
-selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar