Senin, 04 November 2013

Dalam bus

           Jajaran pohon di pinggir jalan terlewat begitu saja. Seolah tanpa permisi, bus yang aku tumpangi melaju kencang mendahului kendaraan lain yang ada di depannya. Sang kondektur bus berdiri santai di bibir pintu dengan memegangi gagang pintu yang tertutup itu. Seketika, ia merogoh saku kiri celananya. Sebungkus rokokpun keluar, lalu ia merogoh-rogoh saku-sakunya yang lain. tak ditemukan sebuah korek nampaknya. Iapun meminta korek pada sosok yang ia panggil dengan sebutan “Bos”, tak lain seorang lelaki paruh baya, dengan kacamata hitam yang duduk di belakang kemudi bus. Perawakannya kekar, dahinya nampak luas karena sebagian rambutnya telah botak, dan ada beberapa tato di lengan kirinya. Tato itu tampak sekadar coretan gambar tak berseni. Pasalnya, hanya tergambar sosok tertawa lebar lalu garis-garis entah apa yang tak dapat aku pahami.
            Pandanganku kemudian aku lempar keluar jendela bus. Ketika itu bus yang aku tumpangi melewati sebuah pabrik yang ada di kota Ungaran. Puluhan, atau bahkan ratusan sepeda motor memadati parkiran pabrik, tentu itu motor-motor milik karyawan pabrik. Parkiran itu hanya terhias beberapa pohon yang tidak begitu tinggi, dan tidak pula begitu lebat daunnya. Hanya terdiri dari ranting kecil dengan daun-daun jarang. Kaca spion dari motor-motor itu menyorot kesegala arah. Tampak putih menyilaukan. Beberapa yang kuduga adalah karyawan pabrik, berbondong-bondong keluar dari gedung produksi itu. Kupikir juga, itu adalah jam istirahat bagi mereka. Dengan seragam baju warna putih, serta bawahan bebas itu. Kulihat sosok lelaki berjalan cepat menuju warung nampaknya, diikuti oleh seorang wanita dibelakangnya. Entah ada hubungan apa mereka, atau hanya khayalanku saja yang mereka-reka cerita.
            Tiba-tiba bus yang aku tumpangi berhenti. Aku melihat kearah depan, mencoba mendongakkan kepala, memeriksa apa yang terjadi. Ternyata terjadi kemacetan didepan. Pak sopir pula mendongakkan kepala keluar jendela bus. Ia memeriksa keadaan didepan. Ternyata ada perbaikan jalan yang tak kunjung usai sampai sekarang. Iapun menggelengkan kepala. Sedikit demi sedikit bus yang aku tumpangipun berjalan. Setelah berselang cukup lama, akhirnya bus ini terlepas dari kemacetan.
            Angin yang menerobos dari atas bus membuat aku merasakan kantuk. Namun segera aku uang perasaan ngantuk tersebut. Pasalnya, aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginan diatas bus ekonomi ini, seperti yang diceritakan kakak kosku. Kemudian, aku melempar pandang keluar jendela lagi. Nampaknya pasar itu telah dirubuhkan, pasalnya terdapat sebuah buldoser diatas bangunan yang telah rata dengan tanah itu. Memang beberapa waktu yang lalu, bangunan pasar itu mengalami kebakaran. Aku jadi teringat dengan pasar didaerahku yang baru-baru ini juga mengalami kebakaran, hingga para pedagangya diungsikan ke jalan raya yang telah ditutup dan dibangun tenda darurat. Banyak isu yang beredar, mengatakan kalau pasar itu dibakar oleh satpam setempat, atau pada intinya oleh orang dalam. Namun itu baru sekadar rumor. Walau demikian, si satpam yang dituduh membakar pasar, tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Hal ini kian menambah keyakinan warga bahwa ialah yang membakar pasar itu. Akan tetapi, sampai penyelidikan tentang penyebab terjadinya kebakaran selesai, masih belum bisa dipastikan bahwa pasar itu sengaja dibakar oleh seseorang. Hingga kini, kasus kebakaran itu masih ditangani di Ibu kota provinsi jawa tengah, yaitu kota Semarang.
            Sepanjang perjalanan, para pengamen hilir mudik mengamen ditas bus ekonomi dengan penumpang yang cenderung berjubel itu. Mereka menengadahkan tangan beberapa saat usai mereka menyanyi. Ada pula yang menggunakan topinya atau kaleng. Namun ada pula yang mengemis dengan metode amplop kecil dengan beberapa larik tulisan permohonan. Namun nahasnya, dari balik jendela, aku melihat sekelompk orang menarikan tarian jaran kepas dipingggir jalan. Setelah itu, mereka menghampiri mobil-mobil yang berhenti dilampu merah dan menengadah pula dengan menggunakan besek, dan beberapa rupiahpun tergeletak disana.
            Tanpa terasa, akhirnya bus ini sampai juga diterminal. Akupun turun dan berjalan kearah bangku panjang di tepi terminal itu. Aku bermaksud untuk menunggu bus selanjutnya yang memiliki jurusan ke arah rumahku. Ketika aku baru saja duduk, dan meletakkan tas punggungku. Seorang nenek tua bersama cucunya menghampiriku.
            “Bagi rezekinya sedikit mbak?”
-selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar