Sering terlihat disana dua bocah lelaki cilik berlarian
diatas bedengan sawah yang lebarnya hanya sebesar kaki orang dewasa. Mereka
bergurau, menarik sarung satu sama lain, juga terkadang saling mencuri peci,dan
mengenakannya di kepala. Mereka menuju ke sebuah surau kecil yang berada ditepi
dusun, diantara jajaran raja klana yang berbisik dan senantiasa bertasbih.
“ Hai missen..?” dari jauh mereka melambai,dan menyapaku
yang sedang duduk menikmati senja di gubuk tengah sawah. Mereka menggunakan
kata missen, yang berarti nona dalam
bahasa belanda. Tak urung, aku juga berbalik menyapa.
“ Hallo...voorzichtig in de straat, oke!” seruku sembari
melambai ke arah mereka. Namun mereka diam, tak menjawab, dan terlihat bingung.
Aku yakin mereka tak paham dengan apa yang aku katakan. Namun dengan lagak seperti paham, mereka lantas
menjawab.
“ Oke, missen”
Aku tersenyum, setiap sore hari mereka selalu menghiburku
yang kesepian. Khas dengan gaya mereka yang berlagak pandai berbahasa asing.
Sebenarnya aku dapat memahami bahasa indonesia, tetapi mungkin mereka yang
menganggapku orang asing, terus berusaha sedemikian rupa agar aku mengerti
dengan apa yang mereka maksudkan. Memang, dapat dikatakan kalau aku ini bule, rambutku pirang, kulitku putih
kemerahan, mataku bersiluet biru ketika tersorot cahaya, namun lidahku ini
dapat dengan cepat menyesuaikan dengan bahasa ibu pertiwi ini.
Ya, aku adalah seorang anak keturunan indonesia dan
belanda. Ayahku adalah asli warga negara belanda, sedangkan ibuku indonesia.
Aku sudah beberapa bulan berada di dusun yang permai ini. Menikmati keindahan
alamnya, mencari ketenangan, sekaligus untuk menghindari ibuku yang tinggal di
tengah-tengah perkotaan. Aku muak dengan hidup. Mengapa aku harus menjatuhkan
satu pilihan dalam hidup. Inikah yang di sebut bahwa hidup adalah pilihan.
Mereka pula tak memahami aku, putrinya. Aku gundah, aku
bingung, kemana aku harus pulang. Entah mengapa salah satu dari mereka tak ada
yang ingin berpindah status warga negara. Sampai perpisahan adalah jalannya.
Aku menangis dalam sepiku. Bahkan akupun juga mengalami pergulatan batin yang
hebat. Kepercayaan apa yang harus aku peluk. Kepercayaan seperti apa?. Sampai
kini aku berusia tujuh belas tahun, aku masih menjadi seorang tanpa agama,
tanpa keyakinan, aku atheis. Tuhanku...?
kemanakan aku harus bernaung??.
Titik-titik air kecil jatuh dari awan cerah yang telah
berkamuflase menjadi awan yang mendung. Aku menekuk kaki, kedinginan. Aku rindu
sebuah kebersamaan tempo itu.
Limburg, adalah sebuah provinsi yang berada di bagian
tenggara negeri belanda. Di bagian selatan provinsi ini adalah daerah yang
berbukit-bukit. Vaalserberg adalah permukaan tertinggi, daerah yang luar biasa
dari pada negara-negara lain, dan meuse adalah sungai yang terbentang sepanjang
provinsi dari selatan ke utara. Sehingga sebagian besar permukaan limburg
terbentuk karena endapan dari sungai meuse.
Maastricht, kota tempat tinggalku yang berada di provinsi
limburg. Dahulu, kami tinggal bersama di sana. Menikmati indahnya negara dengan
empat musim itu. Bila di bulan agustus seperti sekarang ini, mungkin musim semi
sedang berlangsung, sebelum musim gugur tiba di awal september. Canda tawa
selalu menghiasi taman di depan rumahku, yang di tumbuhi oleh puluhan batang
bunga tulip warna-warni kesukaan ibu. Bahkan pernah suatu ketika, ibu yang terlalu
fanatik dengan tulip, mengajak kami mengunjungi taman tulip bernama keukenhof
di Lisse, yang merupakan taman bunga terbesar di dunia yang berada di sebelah
barat daya amsterdam.
The Garden of
Europe, itu julukan bagi taman bunga terbesar di dunia di Lisse, South
Holland. Dengan jutaan bunga dan ratusan varietas, cukup untuk memuaskan batin,
terutama ibuku yang pecinta bunga. Bila di lihat dari atas, taman bunga ini bak
permadani yang memesona.
“ Ibu? Apa kau senang?”
“ Tentu,sayang.”
“ Waarom, Angella..?” Ayah bertanya padaku dengan bahasa
belanda yang berarti kau kenapa, Angella?.
“ Niet” jawabku, yang berarti tidak.
Kami berjalan, dijalan aspal taman yang berwarna hitam
abu-abu. Terdapat air mancur yang indah disana. Di kelilingi rumput yang hijau
nan teratur tumbuhnya, juga ratusan bunga tulip yang mengitari. Ungu, putih,
merah hati dan warna-warna tulip lainnya berjajar rapi dan berkelompok di
sepanjang taman yang ditemani pohon-pohon besar yang sedang bersemi indah.
“ Kau lihat air mancur itu, Angella?”
“ Memang ada apa, bu?”
“ Ada apa?, seharusnya kau bertanya kenapa?”
“ Memang kenapa, bu?”
“ Mulanya air itu melesat dari bawah, lalu menuju angkasa
sampai titik tertinggi, namun setelah beberapa detik, ia langsung terjatuh ke
bawah. Apa kau tahu yang ibu maksudkan?” wajah ibu nampak serius, tak seperti
tadi, yang sibuk memotret bunga-bunga di taman indah ini.
“ Maksud ibu apa?”
“ Ibu tersadar, Angell. Ibu dan Ayah berbeda, dan tak kan
pernah bisa bersatu. Kami harus memilih jalan masing-masing.” Ibu memandang
wajah ayah yang suram dan gundah di antara taman bunga seindah ini.
“ Angella tak mengerti, bu?” aku bertanya kembali, tak
kusangka, diusiaku yang menginjak remaja ini, aku tak kunjung memahami ucapan
ibu.
Mendadak aku melihat kabut di kejauhan, dan seorang gadis
berambut pirang duduk disana dengan menekuk kedua kakinya, ia nampak seperti
orang kedinginan.
“ Telah berapa lama aku tertidur disini?” aku melihat
sekeliling, semua telah gelap. Rasanya aku tadi seperti kembali ke masa lalu.
“ Kenapa tak kembali kerumah, missen?” tanya Abiq. Bocah
cilik yang menyapaku senja tadi.
“ Eh, sudah selesai mengaji?”
“ Sudah, missen.”
“ Kenapa kau tak kembali kerumah mbok Dar, Ella?” Tanya pak ustad Dhofir yang bersama Abiq menjemputku.
“ Saya, saya gundah ustad.”
“ Apa yang telah membuatmu demikian?”
“ Saya.......” Aku tak dapat berkata-kata, terlalu banyak
yang aku gundahkan.
“ Lebih baik, kau ambil wudhu dan solat di surau.”
“ Tapi saya tidak bisa wudhu dan solat, ustad? Saya ini orang
tak beriman.”
“ Masih ada waktu untukmu belajar.”
Kami menuju surau, aku berjalan pelan, walau tlah lama
aku tinggal di daerah ini, namun aku masih kaku berjalan diantara pematang
sawah yang sempit.Ustad Dhofir dengan sabar menuntunku, dan kini aku tlah
menjadi seorang yang beriman. Mualaf.
***
Aku berdiri di beranda rumah ibu yang berada di kawasan
jakarta timur. Aku diam, tak kuucap salam padanya. Sampai dua daun pintu rumah
itu terbuka dengan sendirinya.
“ Kau siapa?” ucap ibu dengan lirih.
“ Ibu? Kau lupa padaku?” aku beringsut mendekatinya. Aku
berlutut mencium kakinya.
“ Ibu, aku tahu yang ibu maksudkan. Kenapa ibu tak bisa
bersama ayah. Itu karena kalian berbeda akidah, bukan?”
“ Angella...?” ibu membelaiku, membelai kepalaku yang
tertutup sebuah hijab.
“ Aku akan terbang kesana, menemui ayah.” Pamitku.
***
Aku sampai di bandara internasional schiphol yang
terletak di selatan Amsterdam. Aku berjalan sendiri, sambil membawa koperku.
Aku melihat kesekeliling, tatkala membuka kacamata hitamku yang besar untuk
memastikan. Namun aku tak kunjung melihat sosok ayahku. Sampai pada akhirnya,
seseorang menepuk belakang tubuhku.
“ Angella?” ucapnya lirih. Ia seakan bingung dengan
penampilanku kini yang mengenakan kerudung.
“ Ayah?”
“ Benarkah kau, Angella?”
“ Apa kau bahagia, ayah? Maukah kau ku ajak mencari
kebahagiaan lain yang hakiki?. Aku tahu, kalu ibu memilih berpisah dengan ayah
karena perbedaan kepercayaan dan akidah.” aku menatap wajah ayahku dengan
lembut.
“ Angella.............” ayah memegang pundakku, juga
menatapku dengan lembut. Seakan hanya kami berdua di sana, di bandara utama
Belanda yang merupakan pintu masuk benua eropa.
--selesai--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar