Senin, 04 November 2013

Philo Sophia

        Matahari senja nampak masih bundar di ufuk barat. Sinarnya menerobos masuk ke sebuah ruang penuh kaca. Disudut terdapat tempat tidur berkasur ganda tanpa kelambu. Di sebelahnya pula terdapat sebuah meja dan kursi rias, lengkap dengan kaca yang lebar di hadapnya. Dibagian dinding yang bercat kuning terang, terpasang satu foto sebuah keluarga ceria. Dalam foto itu, ada seorang bocah laki-laki tampan di gendong sang Ibu yang berdiri semampai cantik, didampingi suaminya. Setelah foto itu, tak ada foto lain yang terpasang.
Di balik jendela, seorang wanita paruh baya memandang kosong ke arah luar. Semua tampak gelap baginya. Pemandangan kolam ikan hias diluar hanya hitam! Pemandangan pegunungan berjajar di timur hanya hitam! Pemandangan taman dengan pohon terpangkas rapi pula hanya hitam! Tak ada sinar yang memasuki raga walau kamar itu telah dikelilingi berbagai kaca lebar. Bahkan anggrek-anggrek bulan yang tumbuh berbunga di sisi kamar yang lain hanya sebagai penghias luar kamar.
Setiap hari, hanya suara mbok Jum yang menuntunnya menuju tempat yang diinginkan. Terkadang, ia ingin duduk ditepi kolam ikan kesayangannya, hanya untuk mendengar suara kecipung air yang bergerak karena ikan-ikan. Terkadang pula di taman luar kamar, pula hanya mendengar gemerisik daun tertiup angin. Hanya sesekali, terdengar suara seseorang yang memanggilnya “Bunda”. Itupun hanya kiranya seminggu sekali, pula tak jarang, suara itu tak ada dalam seminggu. Hanya sunyi, ditemani gemerisik daun, kecimpung air, juga gesekan sayap jangkrik dikala senja menjelang petang.
“Sudah, disini saja,” suara itu hampir berbisik pada Mbok Jum.
“Tolong ambilkan telepon untuk saya, saya rindu dengan Alfian,” suara itu bahkan telah berbisik.
Mbok Jum beringsut mengambil telepon untuk Cut, wanita yang kini hidup tanpa suami lagi disisinya. Sudah lima belas tahun lalu suaminya meninggal, akibat kecelakaan mobil yang menimpanya, seketika setelah ia melayangkan surat cerai pada Cut, perempuan yang telah memberinya satu anak lelaki tampan bernama Alfian.
“Kenapa Ayah ingin bercerai dari bunda?” Cut mengeluh, dipegangnya surat cerai yang hanya tinggal menunggu tanda tangannya terlukis disana. Cut tak ingin menandatanganinya. Hanya menangis, menatap hitam kertas putih itu.
Alfian mengumpat dibalik pintu kamarnya, ia seorang bocah yang saat itu baru berusia sepuluh tahun, hanya bisa tertegun menunggu konflik dihadapanya terurai. Sosok pria yang dipanggilnya “Ayah” itu tak lagi menghiraukan seruan Alfian. Ia hanya bergegas pergi, menstater mobilnya, dengan menggenggam surat cerai yang belum tergores tanda tangan Cut.
Untuk apa aku pelihara istri buta!” hanya kata-kata itu yang terlontar ketika suaminya pergi. Walau iapun telah mengetahui, suaminya sering mengunci pintu kamar mereka dari dalam, dan didalam kamar, terdengar kegaduhan aneh, teriakan, pula desahan. Cut hanya mengeluh dalam batin, terduduk di depan pintu kayu jati itu.
Alfian berdiri terdiam, tak ada yang ia hampiri. Memanggil Ayah, tak dihiraukan. Berlari menuju Bunda, ia pula membenci bundanya. Alfian merasa, bahwa Cut bukanlah bundanya.
“Kamu bukan bundaku! Aku tak mau punya bunda buta!”
Tak kalah jauh sakit Cut mendengar kalimat itu dari mulut puteranya sendiri, putera yang telah ia lahirkan dengan kepayahan. Biarlah, tak perlu lagi mengingat masa itu, kini sudah cukup baik. Puteranya selalu mengunjungi wanita tua itu, barang seminggu sekali. Dan tak jarang memanggilnya “Bunda”.
Mbok Jum memberikan telepon pada Cut, sebuah nomor tujuan tertentu telah ditekan oleh Mbok Jum, pembantu setia keluarga itu. Telah berulang kali Cut menyuruh Mbok Jum untuk pulang kampung, namun tak diindahkan oleh Mbok Jum.
“Apa Mbok tidak rindu dengan keluarga di kampung?” Cut bertanya
“Kenapa harus rindu? Sedangkan keluarga simbok ada disini?” Mbok Jum memeluk Cut, wanita yang telah dianggapnya anak sendiri. Cut sedikit terbatuk, sudah lama ia pula menahan sesak didada.
Lalu, terdengar suara diujung telepon.
“Ada apa lagi, bun? Alfi mungkin tak bisa pulang kerumah minggu ini,” suara diujung telepon itu terdengar tergesa.
“Oh, ya sudah, yang penting jaga kesehatan, jangan lupa solatnya,” Cut hanya berkata satu kalimat itu, lalu terdengar, Tutt..! ujung telepon disana telah diputus.
“Tenanglah, Bu, aden Alfi pasti akan pulang menjenguk Ibu,” Mbok Jum sedikit menghibur. Ia pula mengulurkan satu keranjang kecil berisi syal belum jadi, dan benang rajutan yang telah ditata rapi oleh simbok.
Senja itu, Cut merajut syal abu-abu. Ia terlena, bergumam tentang hidupnya.
“Mbok..? salahkah kalau saya menyesal telah melahirkan Alfi?”
“Kenapa Ibu berkata demikian? Den Alfi itu putera kebanggaan Ibu.”
Malam itu, Ayah Alfi kelimpungan. Tergesa menstater mobil, dan keluar dari garasi. Aku digendongnya menuju mobil. Perjalanan terasa begitu lama. Aku merintih kesakitan, meremas sebelah baju. Menahan regangan-regangan yang terasa begitu sakit, menjalar sekujur tubuh. Teramat sakit, keringat pula bercucuran di dahi, pula dahi Ayah Alfi.
Ketika tiba dikamar bersalin, Ayah Alfi memegang tanganku. Mendengar penjelasan dokter yang membuat semua tercengang! Aku tak bisa melahirkan normal! Retina mataku terlalu rawan sobek, dan mungkin dapat lepas jika melahirkan normal. Jalan terbaik adalah caesar.
Aku berputar otak, semua terasa begitu berat. Padahal ini kelahiran anak pertamaku. Yang kuinginkan adalah merasakan betapa beratnya melahirkan. Bukan hanya diam tertidur dimeja operasi. Aku mengingat janji pada Ibu.
Untuk kelahiran anak pertamaku, aku ingin melahirkan normal,Bu?”
“Ya, semua wanita ingin merasakan, seperti apa sakit yang menyenangkan ketika melahirkan secara normal.”
Ayah Alfi menatap kearahku. Cemas, menatap perutku yang didalamnya meringkuk seorang Alfi.
“Ayah, biarkan bunda melahirkan normal saja, bunda ingin merasakan seperti apa perjuangan seorang Ibu melahirkan anaknya,” aku memohon.
“Tapi, ini bahaya.” Air mukanya mengerut, menatap cemas.
“Percayalah, Yah, Allah akan memberikan pertolongannya padaku dan anak ini,” aku meyakinkan.
Dokter disamping Ayah Alfi hanya sedikit mengingatkan.
“Walau sobekan retina Ibu baru sedikit, tapi ini juga beresiko.”
“Saya ingin normal, dok.” Sang dokter melihat kearah Ayah Alfi. Ia pun mengangguk.
Momen paling menyakitkan dalam hidupku terjadi. Semua tenaga aku kerahkan. Telah lebih dari yang namanya kepayahan. Keringat bercucuran sekujur tubuh. Regangan itu semakin menyakitkan, ketika bundar itu mulai terbuka sedikit, dan menjadi lebar seolah telah sobek semua. Perih, risih, aku menahannya. Sakit luar biasa. Dan aku pula mulai merasa ada yang aneh pada penglihatanku.
Teriakanku membelah sunyi di kamar bersalin malam itu. Ucapan takbir tak henti aku serukan, jilbab yang membelit kepala telah basah sepenuhnya oleh keringat yang turun deras. Dan Maha Besar Allah, Alfi mungilpun lahir ke dunia, membelah dini hari dengan tangisannya. Segera, adzan dikumandangakn ketelinga si Mungil, Alfi. Mungkin bila bayi itu benar dilahirkan secara caesar, aku akan menambah nama dibelakangnya dengan nama “Caesar”.
Perawat menaruh Alfi didekapku. Aku meraba wajahnya. Tubuhnya.
“Tampan, Yah,” aku melihat kearah Ayah Alfi yang berdiri lemas, dan menghela nafas lega. Ia beringsut memeluk aku dan Alfi.
Sesaat, aku merasa ada yang aneh. Ada kilatan pada mata. Terlihat bintik-bintik hitam yang bergerak, pula seakan ada tirai abu-abu yang menghalangi penglihatanku. Namun aku tak mengindahkannya, aku hanya sibuk menikmati nikmat kelahiran anak pertama yang diberikan oleh Allah.
Baru beberapa lama aku sembuh dari rasa sakit dalam liang itu, penglihatanku semakin meredup. Matahari nampak remang. Dan di balik jendela kaca yang tersorot matahari senja itu, semua nampak kelabu, dan berubah menjadi gelap, gelap, dan gelap! Aku hanya diam beberapa saat, hingga Ayah Alfi yang sedang menggendong menghampiriku. Ia merasakan ada yang aneh pada tubuh ini, kedua tanganku salah, Alfi yang seharusnya aku raih, tapi ini, malah hanya awang-awang yang teraih. Ayah Alfi terkejut! Mendekapku!
“Lalu, salahkah jika aku menyesal melahirkan Alfi dengan demikian, Mbok?”
“Semua telah takdir gusti Allah,Bu?”
Mbok Jum kaget, sesosok tinggi tegap menenteng jas putih ala pegawai kesehatan berdiri dibalik pagar taman. Ia berlari menghampiri. Jas putih dengan tanda nama “dr. Alfi” itu digeletakkannya diatas rumput.
“Kenapa? Kenapa bunda tak pernah menceritakan semua ini padaku? Bunda?” ia berseru marah.
“Memang kenapa Alfi?”
“Bunda buta karena Alfi! Bunda mengalami Ablasi Retina!”
“Tidak, nak, ini takdir bunda, tak ada yang dapat bunda lakukan.”
“Tidak, ini bukan semata-mata karena takdir! Ini menyiksa diri bunda!”
“Salahkah jika bunda ingin merasakanmu lahir dari rahim bunda?”
Cut meraba wajah Alfi, puteranya yang selama ini membencinya, malu memiliki Ibu buta seperti Cut.
“Semakin tampan, Bunda masih ingat rabaan tangan bunda pada wajahmu pertama kali dahulu kau baru lahir, dan kini, putera bunda semakain tampan.”
“Bunda......” Alfi merengek memohon maaf.
Alfi mendekap hangat bundanya yang masih menggenggam syal kelabu, yang dirajut khusus untuknya. Namun, tubuh dalam dekapan itu semakin melemah, memucat, nafas yang naik turun itu, kemudian berlalu.
Semua kefanaan ini tak apa berlalu dalam gelap, karena semua akan terlihat indah pada waktunya. Sang bulan, telah gerhana. Inilah sebuah kebijaksanaan cinta.


-selesai-







Tidak ada komentar:

Posting Komentar