Matahari senja nampak
masih bundar di ufuk barat. Sinarnya menerobos masuk ke sebuah ruang penuh
kaca. Disudut terdapat tempat tidur berkasur ganda tanpa kelambu. Di sebelahnya
pula terdapat sebuah meja dan kursi rias, lengkap dengan kaca yang lebar di hadapnya.
Dibagian dinding yang bercat kuning terang, terpasang satu foto sebuah keluarga
ceria. Dalam foto itu, ada seorang bocah laki-laki tampan di gendong sang Ibu
yang berdiri semampai cantik, didampingi suaminya. Setelah foto itu, tak ada
foto lain yang terpasang.
Di balik jendela,
seorang wanita paruh baya memandang kosong ke arah luar. Semua tampak gelap
baginya. Pemandangan kolam ikan hias diluar hanya hitam! Pemandangan pegunungan
berjajar di timur hanya hitam! Pemandangan taman dengan pohon terpangkas rapi
pula hanya hitam! Tak ada sinar yang memasuki raga walau kamar itu telah
dikelilingi berbagai kaca lebar. Bahkan anggrek-anggrek bulan yang tumbuh
berbunga di sisi kamar yang lain hanya sebagai penghias luar kamar.
Setiap hari, hanya
suara mbok Jum yang menuntunnya menuju tempat yang diinginkan. Terkadang, ia
ingin duduk ditepi kolam ikan kesayangannya, hanya untuk mendengar suara
kecipung air yang bergerak karena ikan-ikan. Terkadang pula di taman luar
kamar, pula hanya mendengar gemerisik daun tertiup angin. Hanya sesekali,
terdengar suara seseorang yang memanggilnya “Bunda”. Itupun hanya kiranya
seminggu sekali, pula tak jarang, suara itu tak ada dalam seminggu. Hanya
sunyi, ditemani gemerisik daun, kecimpung air, juga gesekan sayap jangkrik
dikala senja menjelang petang.
“Sudah, disini saja,”
suara itu hampir berbisik pada Mbok Jum.
“Tolong ambilkan
telepon untuk saya, saya rindu dengan Alfian,” suara itu bahkan telah berbisik.
Mbok Jum beringsut
mengambil telepon untuk Cut, wanita yang kini hidup tanpa suami lagi disisinya.
Sudah lima belas tahun lalu suaminya meninggal, akibat kecelakaan mobil yang
menimpanya, seketika setelah ia melayangkan surat cerai pada Cut, perempuan
yang telah memberinya satu anak lelaki tampan bernama Alfian.
“Kenapa Ayah ingin
bercerai dari bunda?” Cut mengeluh, dipegangnya surat cerai yang hanya tinggal
menunggu tanda tangannya terlukis disana. Cut tak ingin menandatanganinya.
Hanya menangis, menatap hitam kertas putih itu.
Alfian mengumpat
dibalik pintu kamarnya, ia seorang bocah yang saat itu baru berusia sepuluh
tahun, hanya bisa tertegun menunggu konflik dihadapanya terurai. Sosok pria
yang dipanggilnya “Ayah” itu tak lagi menghiraukan seruan Alfian. Ia hanya
bergegas pergi, menstater mobilnya, dengan menggenggam surat cerai yang belum
tergores tanda tangan Cut.
“Untuk apa aku pelihara istri buta!” hanya kata-kata itu yang
terlontar ketika suaminya pergi. Walau iapun telah mengetahui, suaminya sering
mengunci pintu kamar mereka dari dalam, dan didalam kamar, terdengar kegaduhan
aneh, teriakan, pula desahan. Cut hanya mengeluh dalam batin, terduduk di depan
pintu kayu jati itu.
Alfian berdiri terdiam,
tak ada yang ia hampiri. Memanggil Ayah, tak dihiraukan. Berlari menuju Bunda,
ia pula membenci bundanya. Alfian merasa, bahwa Cut bukanlah bundanya.
“Kamu bukan bundaku!
Aku tak mau punya bunda buta!”
Tak kalah jauh sakit
Cut mendengar kalimat itu dari mulut puteranya sendiri, putera yang telah ia
lahirkan dengan kepayahan. Biarlah, tak perlu lagi mengingat masa itu, kini
sudah cukup baik. Puteranya selalu mengunjungi wanita tua itu, barang seminggu
sekali. Dan tak jarang memanggilnya “Bunda”.
Mbok Jum memberikan
telepon pada Cut, sebuah nomor tujuan tertentu telah ditekan oleh Mbok Jum, pembantu
setia keluarga itu. Telah berulang kali Cut menyuruh Mbok Jum untuk pulang
kampung, namun tak diindahkan oleh Mbok Jum.
“Apa Mbok tidak rindu
dengan keluarga di kampung?” Cut bertanya
“Kenapa harus rindu?
Sedangkan keluarga simbok ada disini?” Mbok Jum memeluk Cut, wanita yang telah
dianggapnya anak sendiri. Cut sedikit terbatuk, sudah lama ia pula menahan
sesak didada.
Lalu, terdengar suara
diujung telepon.
“Ada apa lagi, bun?
Alfi mungkin tak bisa pulang kerumah minggu ini,” suara diujung telepon itu
terdengar tergesa.
“Oh, ya sudah, yang
penting jaga kesehatan, jangan lupa solatnya,” Cut hanya berkata satu kalimat
itu, lalu terdengar, Tutt..! ujung telepon disana telah diputus.
“Tenanglah, Bu, aden Alfi pasti akan pulang menjenguk
Ibu,” Mbok Jum sedikit menghibur. Ia pula mengulurkan satu keranjang kecil
berisi syal belum jadi, dan benang rajutan yang telah ditata rapi oleh simbok.
Senja itu, Cut merajut
syal abu-abu. Ia terlena, bergumam tentang hidupnya.
“Mbok..? salahkah kalau
saya menyesal telah melahirkan Alfi?”
“Kenapa Ibu berkata
demikian? Den Alfi itu putera
kebanggaan Ibu.”
Malam itu, Ayah Alfi
kelimpungan. Tergesa menstater mobil, dan keluar dari garasi. Aku digendongnya
menuju mobil. Perjalanan terasa begitu lama. Aku merintih kesakitan, meremas
sebelah baju. Menahan regangan-regangan yang terasa begitu sakit, menjalar
sekujur tubuh. Teramat sakit, keringat pula bercucuran di dahi, pula dahi Ayah
Alfi.
Ketika tiba dikamar
bersalin, Ayah Alfi memegang tanganku. Mendengar penjelasan dokter yang membuat
semua tercengang! Aku tak bisa melahirkan normal! Retina mataku terlalu rawan
sobek, dan mungkin dapat lepas jika melahirkan normal. Jalan terbaik adalah
caesar.
Aku berputar otak,
semua terasa begitu berat. Padahal ini kelahiran anak pertamaku. Yang
kuinginkan adalah merasakan betapa beratnya melahirkan. Bukan hanya diam
tertidur dimeja operasi. Aku mengingat janji pada Ibu.
“Untuk kelahiran anak pertamaku, aku ingin melahirkan normal,Bu?”
“Ya,
semua wanita ingin merasakan, seperti apa sakit yang menyenangkan ketika
melahirkan secara normal.”
Ayah Alfi menatap
kearahku. Cemas, menatap perutku yang didalamnya meringkuk seorang Alfi.
“Ayah, biarkan bunda
melahirkan normal saja, bunda ingin merasakan seperti apa perjuangan seorang
Ibu melahirkan anaknya,” aku memohon.
“Tapi, ini bahaya.” Air
mukanya mengerut, menatap cemas.
“Percayalah, Yah, Allah
akan memberikan pertolongannya padaku dan anak ini,” aku meyakinkan.
Dokter disamping Ayah
Alfi hanya sedikit mengingatkan.
“Walau sobekan retina
Ibu baru sedikit, tapi ini juga beresiko.”
“Saya ingin normal,
dok.” Sang dokter melihat kearah Ayah Alfi. Ia pun mengangguk.
Momen paling
menyakitkan dalam hidupku terjadi. Semua tenaga aku kerahkan. Telah lebih dari
yang namanya kepayahan. Keringat bercucuran sekujur tubuh. Regangan itu semakin
menyakitkan, ketika bundar itu mulai terbuka sedikit, dan menjadi lebar seolah
telah sobek semua. Perih, risih, aku menahannya. Sakit luar biasa. Dan aku pula
mulai merasa ada yang aneh pada penglihatanku.
Teriakanku membelah
sunyi di kamar bersalin malam itu. Ucapan takbir tak henti aku serukan, jilbab
yang membelit kepala telah basah sepenuhnya oleh keringat yang turun deras. Dan
Maha Besar Allah, Alfi mungilpun lahir ke dunia, membelah dini hari dengan
tangisannya. Segera, adzan dikumandangakn ketelinga si Mungil, Alfi. Mungkin
bila bayi itu benar dilahirkan secara caesar, aku akan menambah nama dibelakangnya
dengan nama “Caesar”.
Perawat menaruh Alfi
didekapku. Aku meraba wajahnya. Tubuhnya.
“Tampan, Yah,” aku
melihat kearah Ayah Alfi yang berdiri lemas, dan menghela nafas lega. Ia
beringsut memeluk aku dan Alfi.
Sesaat, aku merasa ada
yang aneh. Ada kilatan pada mata. Terlihat bintik-bintik hitam yang bergerak,
pula seakan ada tirai abu-abu yang menghalangi penglihatanku. Namun aku tak
mengindahkannya, aku hanya sibuk menikmati nikmat kelahiran anak pertama yang
diberikan oleh Allah.
Baru beberapa lama aku
sembuh dari rasa sakit dalam liang itu, penglihatanku semakin meredup. Matahari
nampak remang. Dan di balik jendela kaca yang tersorot matahari senja itu,
semua nampak kelabu, dan berubah menjadi gelap, gelap, dan gelap! Aku hanya
diam beberapa saat, hingga Ayah Alfi yang sedang menggendong menghampiriku. Ia
merasakan ada yang aneh pada tubuh ini, kedua tanganku salah, Alfi yang
seharusnya aku raih, tapi ini, malah hanya awang-awang yang teraih. Ayah Alfi
terkejut! Mendekapku!
“Lalu, salahkah jika
aku menyesal melahirkan Alfi dengan demikian, Mbok?”
“Semua telah takdir
gusti Allah,Bu?”
Mbok Jum kaget, sesosok
tinggi tegap menenteng jas putih ala pegawai kesehatan berdiri dibalik pagar
taman. Ia berlari menghampiri. Jas putih dengan tanda nama “dr. Alfi” itu
digeletakkannya diatas rumput.
“Kenapa? Kenapa bunda
tak pernah menceritakan semua ini padaku? Bunda?” ia berseru marah.
“Memang kenapa Alfi?”
“Bunda buta karena
Alfi! Bunda mengalami Ablasi Retina!”
“Tidak, nak, ini takdir
bunda, tak ada yang dapat bunda lakukan.”
“Tidak, ini bukan semata-mata
karena takdir! Ini menyiksa diri bunda!”
“Salahkah jika bunda
ingin merasakanmu lahir dari rahim bunda?”
Cut meraba wajah Alfi,
puteranya yang selama ini membencinya, malu memiliki Ibu buta seperti Cut.
“Semakin tampan, Bunda
masih ingat rabaan tangan bunda pada wajahmu pertama kali dahulu kau baru
lahir, dan kini, putera bunda semakain tampan.”
“Bunda......” Alfi
merengek memohon maaf.
Alfi mendekap hangat
bundanya yang masih menggenggam syal kelabu, yang dirajut khusus untuknya.
Namun, tubuh dalam dekapan itu semakin melemah, memucat, nafas yang naik turun itu,
kemudian berlalu.
Semua
kefanaan ini tak apa berlalu dalam gelap, karena semua akan terlihat indah pada
waktunya. Sang bulan, telah gerhana. Inilah sebuah kebijaksanaan cinta.
-selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar