Sayup-sayup benakku di
rasuki melodi dua lagu bossa nova, Copacabana, dan Girl from Ipanema, yaitu di
sela waktuku menulis surat untuk aku kirimkan ke seluruh penjuru dunia.
Copacabana yang melantun indah di populerkan oleh Barry Manillow. Lalu, tiba-tiba
pandangan dari pelupuk mata berkamuflase menjadi hamparan pantai indah nan
eksotis. Di sebuah kepulauan para raja! Nampak sebuah pelabuhan yang dipenuhi
perahu-perahu tradisional yang berjajar rapi di sepanjang marina. Aku mulai
berlayar, musik ingar-bingar memenuhi suasana kapal. Musik mengalun riuh
rendah, para turis lokal tampak melenggak lenggokkan badan mengikuti alunan
musik. Berdansa adalah suatu hal yang mendarah daging bagi masyarakat di
pesisir Brasil ini. Mereka bergoyang dan bernyanyi nonstop! Adalah kepulauan
Angra dos Reis, sebuah kepulauan indah tak jauh dari kota kedua terbesar di
Brasil, setelah kota Sao Paulo, yaitu Rio de Janiero.
Diperlukan waktu
sekiranya tiga jam untuk mengelilingi teluk di Angra dos Reis ini. Menikmati
desiran air oleh udara yang bergerak, dan keindahan ratusan pulau kecil yang
mengitari teluk. Tanganku terlentang, mataku terpejam, menghirup suasana
eksotis dan lantunan musik. Hingga tak sadar pula topi pantaiku yang berwarna
merah marun terlepas dari kepala.
“ Ah! Shit! Sial,”
gumamku. Aku bergerak menuju belakang kapal, sambil sedikit menarik keatas
pakaian pantaiku yang berwarna hitam bercorak bunga lebar berwarna biru, dengan
kaitan sebuah tali yang dikalungkan di leher.
“ Where my hat?! Mana
topiku?!” aku celingukan.
“ Yours?” Milikmu? Kata
seorang pria berkacamata hitam, pula berkemeja pantai dengan corak yang sama
denganku.
“ Oh yeah, thanks.”
“ Oh God! we dress
alike?” Ya Tuhan! baju kita sama? Seru pria bertopi putih itu.
“ Apanya yang sama,
hanya sama warna dan corak saja,” kataku sambil mengumpat.
“ Apa katamu?” Pria itu
membalikkan tubuhku yang sudah membelakanginya.
“ What? You speak
Indonesian?” kataku terheran.
“ Tentu!”
Aku hanya melongo,
nyaris tak percaya.
“ Kenapa kau? Orang
yang sama sekali no fashionable..” katanya.
“ Cheeky! Kurang Ajar!”
seruku. Aku segera merebut topi pantaiku dari tangannya, dan beringsut dengan
kesal menuju ke bagian depan kapal.
“ Orang mana dia, berani-beraninya
mengataiku kuno, tidak fashionable. Awas saja, tak akan aku maafkan dia!” aku
meremas-remas topi merah marun di tangan. Lalu menghempaskannya di lantai
kapal, penasaran, aku melihat ke arah kaca.
“ Nampak baik,”
gumamku. “ Cantik pula,” pujiku.
“ Kurang ajar! Matanya
saja yang sakit!” seruku. Tiba-tiba sosok pria itu menghampiri, berjalan pelan
yang nampak cool, dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana.
“ What do you say?! Apa
yang kau katakan?!”
“ Tidak, aku tidak
mengatakan apa-apa,” jawabku gugup. Dan ia semakin mendekat, semakin mendekat,
dan mendekat hingga mendekapku dari belakang.
“ Apa yang kau
lakukan?” tanyanku terkaget. Aku berontak, walau dalam hati aku sedikit
terbesit rasa senang, bisa di peluk pria setampan dia.
“ Diam!”
Aku lantas menyerah,
membiarkan ia memelukku dari belakang. Wajahnya di temaramkan di pundakku. Aku
merasakan desiran angin itu hinggap di seluruh tubuhku.
“ Siapa kau
sebenarnya?” tanyaku.
“ Pentingkah itu?”
Aku mengangguk kecil.
“ I’m your guardian,” katanya
berbisik di telingaku. Aku semakin bingung di buatnya.
Tak lama, kami singgah di sebuah
pulau tak berpenghuni. Aku dengannya, yang kukenal bernama Alfano berjalan
bersama menyisiri pantai berpasir lembut, dan menikmati kesegaran air lautnya
yang menggelitik di permukaan kaki.
“ Sudah berapa lama kau di Brasil?”
“ Seminggu,” jawabnya singkat.
“ Apa tujuanmu kesini?”
“ Tujuanku hanya satu, keliling
dunia.”
“ Butuh banyak dana untuk itu.”
“ Ya, benar. Tapi masih lebih baik
dari pada membayar orang-orang aneh itu.”
“ Maksudmu?”
“ Ya, mereka orang aneh yang selalu
mengucapkan kalimat yang sama setiap kali aku berkunjung.”
“ Kalimat apa?”
“ Silakan anda kembali lagi tiga
hari dari sekarang.”
“ Maksudnya apa itu?”
“ Sudahlah, jangan pikirkan itu.”
Katanya, matanya menatap ke bawah, menendang-nendang pasir kecil.
“ Esok kita ke Sugarloaf, bukit
granit di Rio de Janeiro, Ok? Mr. Alfano,” ajakku.
***
Kereta gantung berjalan menanjak,
pemandangan berupa pelabuahan di kaki Sugarloaf terlihat indah. Teluk di hiasi
perahu-perahu layar. Beberapa taman yang berada di kota memberikan kesejukan
tersendiri diantara gedung-gedung pencakar langit yang berjejer rapi. Mega di
langit cerah pula membumbung mengiasi, membentuk senyuman di langit. Dari bukit
ini kami dapat menikmati pemandangan Sugarloaf yang menjulang tinggi. Batu
granit raksasa! Yang di tumbuhi beberapa tanaman hutan di bagian tebing
terjalnya, nampak seperti lumut yang menempel di sebuah batu.
Dari puncak Sugarloaf, nampak
puluhan pulau kecil yang menghiasi birunya air teluk, pula jembatan Niteroi
yang tertidur di atas angin membelah teluk Guanabara.
“ Indah,” celetuk Alfano.
“ Yeah, so beautiful.”
“ Apa yang kau pikirkan ketika
melihat semua ini?”
“ Aku tak bisa berkata apa-apa,
Kau?”
“ Aku tidak bisa berpikir apa-apa,”
guraunya. “Tolong peluk aku.”
“ Ada apa denganmu?” aku lantas
memeluknya.
Di puncak Sugarloaf. Ia nampak
pucat, bibirnya kelu untuk mengatakan sesuatu. Tangannya terus memegangi
kepalanya. Ia menggigil.
“ Kau kenapa?” aku ketakutan masih
sambil mendekapnya.
“ Tidak, aku baik-baik saja.”
Wajahnya tampak semakin pucat, aku
ingin beringsut untuk meminta pertolongan, namun ia menahanku.
“ Kenapa?”
“ Terima kasih.”
“ Untuk apa?”
“ Untukmu yang telah memberikan
kekuatan untuk orang yang sedang sekarat ini.”
“ Kau? Sekarat?”
“ Ssstt, tunggulah surat balasan
dariku,” katanya yang menutup bibirku dengan jarinya. Seketika itu tubuhnya
serasa melemas, matanya perlahan tertutup, tangannya yang hinggap di bibirku juga
terjatuh ke samping tubuhnya. Di atas Sugarloaf, semua orang memandangi dengan
pedih.
***
PRAKK## Suara gemuruh terdengar,
kereta gantung itu putus! Aku tidak
beranjak, masih mendekap tubuh Alfano di sana. Aku menutup mata.
Ketika aku membuka mata, terlihat
bantal-bantal berisi kapas berserakan di sisi-sisi tubuhku, aku tersungkur
memeluk sebuah boneka tedy. Lusuh! Sebuah buku geographic tergeletak tanpa
nyawa di sana. Dan sebuah earphone
masih terpasang di kedua telinga yang terus mengulang-ngulang lagu-lagu Barry
Manillow. Aku tersadar.
“ Hanya mimpi,” gumamku sambil
menangkupkan tangan ke mukaku.
Dari arah luar, terdengar ketukan.
Aku beringsut untuk membukakan pintu. Ternyata pak pos dengan sepeda motor orange-nya datang mengantar surat.
Aku baca amplop surat itu, disana,
tertulis namaku, Iva Diana, Jakarta. Buru-buru aku membukanya, bahkan tak
sabar, aku langsung merobek tepiannya. Di sana terdapat sebuah brosur
perjalanan wisata. Ke Brasil! Rio de Janiero! Teriakku girang. Lalu terselip
disana pula, sepucuk surat dengan kertas berwarna kuning. Dan bertuliskan,
Temui aku di puncak Sugarloaf, Alfano.
-selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar