Senin, 04 November 2013

Kesangkut CINTA di Rio de Janiero

        Sayup-sayup benakku di rasuki melodi dua lagu bossa nova, Copacabana, dan Girl from Ipanema, yaitu di sela waktuku menulis surat untuk aku kirimkan ke seluruh penjuru dunia. Copacabana yang melantun indah di populerkan oleh Barry Manillow. Lalu, tiba-tiba pandangan dari pelupuk mata berkamuflase menjadi hamparan pantai indah nan eksotis. Di sebuah kepulauan para raja! Nampak sebuah pelabuhan yang dipenuhi perahu-perahu tradisional yang berjajar rapi di sepanjang marina. Aku mulai berlayar, musik ingar-bingar memenuhi suasana kapal. Musik mengalun riuh rendah, para turis lokal tampak melenggak lenggokkan badan mengikuti alunan musik. Berdansa adalah suatu hal yang mendarah daging bagi masyarakat di pesisir Brasil ini. Mereka bergoyang dan bernyanyi nonstop! Adalah kepulauan Angra dos Reis, sebuah kepulauan indah tak jauh dari kota kedua terbesar di Brasil, setelah kota Sao Paulo, yaitu Rio de Janiero.
Diperlukan waktu sekiranya tiga jam untuk mengelilingi teluk di Angra dos Reis ini. Menikmati desiran air oleh udara yang bergerak, dan keindahan ratusan pulau kecil yang mengitari teluk. Tanganku terlentang, mataku terpejam, menghirup suasana eksotis dan lantunan musik. Hingga tak sadar pula topi pantaiku yang berwarna merah marun terlepas dari kepala.
“ Ah! Shit! Sial,” gumamku. Aku bergerak menuju belakang kapal, sambil sedikit menarik keatas pakaian pantaiku yang berwarna hitam bercorak bunga lebar berwarna biru, dengan kaitan sebuah tali yang dikalungkan di leher.
“ Where my hat?! Mana topiku?!” aku celingukan.
“ Yours?” Milikmu? Kata seorang pria berkacamata hitam, pula berkemeja pantai dengan corak yang sama denganku.
“ Oh yeah, thanks.”
“ Oh God! we dress alike?” Ya Tuhan! baju kita sama? Seru pria bertopi putih itu.
“ Apanya yang sama, hanya sama warna dan corak saja,” kataku sambil mengumpat.
“ Apa katamu?” Pria itu membalikkan tubuhku yang sudah membelakanginya.
“ What? You speak Indonesian?” kataku terheran.
“ Tentu!”
Aku hanya melongo, nyaris tak percaya.
“ Kenapa kau? Orang yang sama sekali no fashionable..” katanya.
“ Cheeky! Kurang Ajar!” seruku. Aku segera merebut topi pantaiku dari tangannya, dan beringsut dengan kesal menuju ke bagian depan kapal.
“ Orang mana dia, berani-beraninya mengataiku kuno, tidak fashionable. Awas saja, tak akan aku maafkan dia!” aku meremas-remas topi merah marun di tangan. Lalu menghempaskannya di lantai kapal, penasaran, aku melihat ke arah kaca.
“ Nampak baik,” gumamku. “ Cantik pula,” pujiku.
“ Kurang ajar! Matanya saja yang sakit!” seruku. Tiba-tiba sosok pria itu menghampiri, berjalan pelan yang nampak cool, dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana.
“ What do you say?! Apa yang kau katakan?!”
“ Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa,” jawabku gugup. Dan ia semakin mendekat, semakin mendekat, dan mendekat hingga mendekapku dari belakang.
“ Apa yang kau lakukan?” tanyanku terkaget. Aku berontak, walau dalam hati aku sedikit terbesit rasa senang, bisa di peluk pria setampan dia.
“ Diam!”
Aku lantas menyerah, membiarkan ia memelukku dari belakang. Wajahnya di temaramkan di pundakku. Aku merasakan desiran angin itu hinggap di seluruh tubuhku.
“ Siapa kau sebenarnya?” tanyaku.
“ Pentingkah itu?”
            Aku mengangguk kecil.
            “ I’m your guardian,” katanya berbisik di telingaku. Aku semakin bingung di buatnya.
            Tak lama, kami singgah di sebuah pulau tak berpenghuni. Aku dengannya, yang kukenal bernama Alfano berjalan bersama menyisiri pantai berpasir lembut, dan menikmati kesegaran air lautnya yang menggelitik di permukaan kaki.
            “ Sudah berapa lama kau di Brasil?”
            “ Seminggu,” jawabnya singkat.
            “ Apa tujuanmu kesini?”
            “ Tujuanku hanya satu, keliling dunia.”
            “ Butuh banyak dana untuk itu.”
            “ Ya, benar. Tapi masih lebih baik dari pada membayar orang-orang aneh itu.”
            “ Maksudmu?”
            “ Ya, mereka orang aneh yang selalu mengucapkan kalimat yang sama setiap kali aku berkunjung.”
            “ Kalimat apa?”
            “ Silakan anda kembali lagi tiga hari dari sekarang.”
            “ Maksudnya apa itu?”
            “ Sudahlah, jangan pikirkan itu.” Katanya, matanya menatap ke bawah, menendang-nendang pasir kecil.
            “ Esok kita ke Sugarloaf, bukit granit di Rio de Janeiro, Ok? Mr. Alfano,” ajakku.
           
***
            Kereta gantung berjalan menanjak, pemandangan berupa pelabuahan di kaki Sugarloaf terlihat indah. Teluk di hiasi perahu-perahu layar. Beberapa taman yang berada di kota memberikan kesejukan tersendiri diantara gedung-gedung pencakar langit yang berjejer rapi. Mega di langit cerah pula membumbung mengiasi, membentuk senyuman di langit. Dari bukit ini kami dapat menikmati pemandangan Sugarloaf yang menjulang tinggi. Batu granit raksasa! Yang di tumbuhi beberapa tanaman hutan di bagian tebing terjalnya, nampak seperti lumut yang menempel di sebuah batu.
            Dari puncak Sugarloaf, nampak puluhan pulau kecil yang menghiasi birunya air teluk, pula jembatan Niteroi yang tertidur di atas angin membelah teluk Guanabara.
            “ Indah,” celetuk Alfano.
            “ Yeah, so beautiful.”
            “ Apa yang kau pikirkan ketika melihat semua ini?”
            “ Aku tak bisa berkata apa-apa, Kau?”
            “ Aku tidak bisa berpikir apa-apa,” guraunya. “Tolong peluk aku.”
            “ Ada apa denganmu?” aku lantas memeluknya.
            Di puncak Sugarloaf. Ia nampak pucat, bibirnya kelu untuk mengatakan sesuatu. Tangannya terus memegangi kepalanya. Ia menggigil.
            “ Kau kenapa?” aku ketakutan masih sambil mendekapnya.
            “ Tidak, aku baik-baik saja.”
            Wajahnya tampak semakin pucat, aku ingin beringsut untuk meminta pertolongan, namun ia menahanku.
            “ Kenapa?”
            “ Terima kasih.”
            “ Untuk apa?”
            “ Untukmu yang telah memberikan kekuatan untuk orang yang sedang sekarat ini.”
            “ Kau? Sekarat?”
            “ Ssstt, tunggulah surat balasan dariku,” katanya yang menutup bibirku dengan jarinya. Seketika itu tubuhnya serasa melemas, matanya perlahan tertutup, tangannya yang hinggap di bibirku juga terjatuh ke samping tubuhnya. Di atas Sugarloaf, semua orang memandangi dengan pedih.
***
            PRAKK## Suara gemuruh terdengar, kereta gantung itu putus! Aku  tidak beranjak, masih mendekap tubuh Alfano di sana. Aku menutup mata.
             Ketika aku membuka mata, terlihat bantal-bantal berisi kapas berserakan di sisi-sisi tubuhku, aku tersungkur memeluk sebuah boneka tedy. Lusuh! Sebuah buku geographic tergeletak tanpa nyawa di sana. Dan sebuah earphone masih terpasang di kedua telinga yang terus mengulang-ngulang lagu-lagu Barry Manillow. Aku tersadar.
            “ Hanya mimpi,” gumamku sambil menangkupkan tangan ke mukaku.
            Dari arah luar, terdengar ketukan. Aku beringsut untuk membukakan pintu. Ternyata pak pos dengan sepeda motor orange-nya datang mengantar surat.
            Aku baca amplop surat itu, disana, tertulis namaku, Iva Diana, Jakarta. Buru-buru aku membukanya, bahkan tak sabar, aku langsung merobek tepiannya. Di sana terdapat sebuah brosur perjalanan wisata. Ke Brasil! Rio de Janiero! Teriakku girang. Lalu terselip disana pula, sepucuk surat dengan kertas berwarna kuning. Dan bertuliskan,
            Temui aku di puncak Sugarloaf, Alfano.
           
-selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar