Sisyphus
Birokrasi tak ubahnya
sebuah bentuk kekuasaan berlabel majikan, dan segala diluar dirinya adalah
pembantu rumah tangga yang pantas diatur. Tidakkah sebagai seorang jongos yang ditindas dibolehkan bunuh diri?
Hakim itu melirik panas
ke arah Samsudin yang duduk di kursi pesakitan yang empuk itu. Tangannya terus
bermain kuku, menyayat kulit-kulit mati disana.
“Saya tidak membunuh,
Pak Hakim?” untuk kesekian kalinya, Samsudin menjawab demikian. Bahkan penyebab
kematian Darman tidak diketahui oleh Samsudin. Ia hanya si awam yang terjebak
ke dalam lembah sisypus.
“Emang si Darman mati
ngapa?!” Samsudin menengok kearahku, khas dengan logat ngapaknya.
“Lha mana saya ngerti,
ngerti-ngerti Darman sudah mati gitu.”
“Lha kenapa bisanya aku
yang dituduh membunuh?”
Aku hanya mengangkat
sedikit bahu. Daguku pula menjinjing sedikit.
“Saudara SAMSUDIN!”
Hakim itu menurunkan sedikit posisi kacamatanya. Samsudin hanya terperanjat
lugu.
“Mendingan kita tanyai
si Darman, dia mati si ngapa?” Usulku dengan wajah lugu ala desa.
“Wah, ide yang bagus.”
Samsudin mengacungkan jempol padaku, tubuhnya pula hendak beringsut dari kursi
pengadilan. Namun tertahan.
Persidangan sungguh
rumit berjalan. Anak istri Samsudin tak hadir disana, mereka sibuk menghitung
laba dari penjualan sapi beberapa minggu yang lalu, sebelum Darman meninggal.
“Bukan! Bukan! Jangan
saya si ngapa?” Darman berkelit, ia meringkuk-ringkuk menyingkir dari hadapan
Pak Danu.
“Halah! Terima saja si
ngapa? Rejeki itu.” Aku menimpali.
“Pokoknya saya ndak mau
si!”
Pak Danu beringsut dari
ruang tamu sempit itu. Rumah Darman memang terlampau mungil. Ruang tamu yang
hanya sekian meter saja masih ditimpangi sebuah televisi 14 inci hitam putih.
Alas rumah masihlah berupa tanah telanjang, sehingga semua tamu yang datang tak
perlu melepas sepatunya. Malah harus dipakai!
Mobil Pak Danu sudah
berlalu dari halaman rumah Darman. Darman melongok sedikit dari balik jendela.
Aku hanya heran terhadapnya. Lalu ia duduk kembali dan menyeruput kopi pahit
buatan istrinya, Darsih.
“Sudah tahu kopi pahit
kok ya diminum?” aku melirik heran pada
Darman.
“Lha ngapa si? Kopi
memang pahit!” Darman berseru, sedikit air kopinya berleleran didagu.
“Huh! Kenapa bapak ndak
ambil tawaran Pak Danu?” Darsih menyembul dari dapur. Air mukanya nampak kecewa
pada suaminnya.
“Lha emang ngapa si?”
“Bapak itu buta atau
tuli! Lihat! Kopi pahit seperti itu masih bisa ngmong ‘ngapa si?’” Darsih naik
pitam merasai suaminya yang dia pikir kolot.
“Lha memang kopi itu
pahit mbok*?” Darman melihat aku dengan sudut matanya, ia ingin aku mengiyakan
perkataannya.
Esok harinya Darman
kaget, ia terperanjat! Tahu-tahu tanpa sepengetahuannya, ada tiga ekor sapi di
kandangnya yang telah lama kosong.
“Ini si sapi siapa si?”
Darman berseru kearah rumah. Aku berlari kecil dari balik kandang, sekantung
plastik hitam aku gantung disana, kantung dari Pak Danu.
“Sapi si Darsih lah
kang?” jawabku.
“Lha kapan si Darsih
beli sapi? Dia ndak punya uang mbok?”
Aku menggeleng saja, ya
karena sudah lama juga aku tidak mengangguk, tulang leherku sakit. Hahaha.
“Ngapa si Kang? Jangan
teriak-teriak mbok?” Darsih muncul dari arah rumah.
“Lha biar si, Samsudin
juga yang tak suruh merumput, bukan sampeyan mbok?” Darsih melanjutkan
pembicaraannya.
“Tapi ini si sapi
siapa?”
“Ndak perlu tahu kamu
kang!”
Aku mencuri pandang
saja pada sepasang suami istri itu. Aneh, pikirku. Lantas aku melihat Darman
beralih, ia meraih caping dan sabitnya. Akan pergi ke sawah, pikirku. Tapi aku
salah.
“Mau kemana kamu kang?”
Tanyaku.
“Rumah si Danu!”
“Lha mau ngapa si?”
“Mau ngapa-ngapa itu
urusanku mbok?”
Ketika itu langit
sedikit mendung. Namun matahari masih menyengat. Kalaupun hujan, bakal jadi
hujan tokek, pikirku.
“Danu! Danu! Ambil
sapi-sapi sampeyan!” Darman berseru sambil mengacung-ngacungkan sabit yang
tampak tajam baru diasah itu.
“Apa ini! Kenapa?” Pak
Danu yang muncul lantas berseru kaget.
“Jangan dikira saya
ndak tahu pekerjaanmu! Ambil sapi-sapi itu sekarang!”
Tanpa pikir panjang
lagi, Darman beringsut kearah kantor desa. Disana ia jadi bahan tontonan.
“Jangan dikira saya
ndak tahu pekerjaan kalian semua! Dasar pengkhianat! Pengkhianat semua!” Darman
berteriak-teriak. Seisi kantor melirik sinis pada Darman. Aku yang berusaha
menenangkannya, hanya pula menjadi bahan olokan petugas desa.
Sesungguhnya Darman
adalah seorang yang jujur, baik akhlaknya. Namun semua sering berpersepsi salah
terhadapnya. Mentang-mentang Darman tak lebih dari seorang jongos!
Senja merapat.
Terdengar tangis dari arah rumah Darman.
“Kang..!” Darsih
menjerit pilu. Warga sekampung berdatangan, pula diriku.
“Bapak?” Didin, anak
Darman hanya tertegun melihat tubuh bapaknya tertelungkup di dalam kandang
sapi. Kantung hitam itu telah tercecer di samping tubuh Darman.
-selesai-
Keterangan:
*kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar