Payung
putih gadis Jepang
Ketika itu pertengahan sepetember di
Jepang, sekitar tanggal 15. Dikenal sebagai waktu purnama yang terindah. Langit
malam yang kelam berkamuflase menjadi malam yang ceria bermandikan sinar bulan.
Mereka yang menikmati sinar bulan di kenal dengan tsukimi, sembari menikmati kue moci tsukimi yang lezat. Musim gugur
yang begitu nyaman di Jepang, daun-daun yang bertengger di pohon juga berwarna
warni kala itu. Waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Menikmati
secawan teh hangat, di tepi pedesaan indah yang masih asri di sebuah kota tua,
yaitu kota Nara. Kota Nara adalah sebuah kota yang masih berwujud pedesaan
dengan rumah-rumah sederhana. Tiada gedung-gedung tinggi seperti di Tokyo
ataupun Osaka. Banyak terdapat kuil dan cagar budaya. Inilah titik keindahan
kota Nara, kota yang sering disebut dengan kota shika, yang berarti rusa.
Di waktu fajar, dikala bulan telah
berganti dengan matahari. Warna-warni daun musim gugur nampak terang. Berjajar sepanjang
jalan. Pohon momiji salah satunya, yang elok dipandang mata, ketika batang
pohonnya berwarna gelap sedangkan daun-daunnya berwarna kuning, merah, emas,
ataupun coklat. Lama kelamaan daun-daun itu akan mengering, lalu gugur.
“ Sudah selesai ambil gambar belum?
“ tanya sahabatku, Arif.
“ Hei..!! kau dengar aku tidak!”
“ Eh, iya sudah.” Aku jatuh dalam
lamunan sesaat, menikmati keindahan suasana gugur di kota Nara.
Mengemasi kamera. Bersiap pindah ke
lain tempat.
“ Sebentar..!” seru kawanku yang
lain.
“ Kenapa?”
Aku melihat sosok putih berpayung
putih berjalan diantara pohon momiji. Anggun.
“ Cantik..” celetuk Roby, kawanku
yang agak sedikit badung.
“ Benar.” Aku mengiyakan perkataan
Roby.
“ Ohayo.....” selamat pagi. Gadis jepang itu menyapa kami bertiga.
“ Ohayo..” jawab kami seadanya.
Walau kami adalah seorang mahasiswa jurusan sastra jepang, namun boleh
dikatakan, bahasa jepang kami nol.
Aku terhenyak. Teriakan-teriakan itu
memekakan telingaku. Pikiranku membawaku ke masa itu. Ketika aku menemukan
seorang gadis di sudut bandara.
“ Biarkan saja dia, toh dia orang
jepang ini...” Roby dan Arif berjalan menuju taksi.
Aku yang tak tega melihatnya, lalu
memberikan jaket yang aku kenakan, serta beberapa lembar mata uang jepang
padanya. Hanya sekilas melihat wajah yang tertutup rambut lurus itu.
“ Arigatou...”
“ Dare?” siapa.
“ Akiko....”
“ Watashi wa Dani.” aku Dani.
“ Thanks, you have helped me at that
time.” Terimakasih, kamu sudah menolongku
saat itu.
Aku teringat gadis yang aku tolong
saat di bandara. Ya, itu gadis ini, yang berdiri di hadapanku sekarang. Akiko.
Aku tersenyum lebar.
Berpayung putih, aku dan akiko
berjalan-jalan di sekitar jajaran pohon momiji. Bercakap satu sama lain, walau
terkadang kami tak saling mengerti dengan bahasa yang di gunakan. Akiko.
Wajahnya tirus, putih, badannya kurus, dan berambut lurus panjang. Sorot
matanya begitu indah ketika tertimpa sinar matahari pagi musim gugur.
“ Kirei.” Cantik,celetukku pada Akiko.
“ Kakkoi.” Tampan, ia memajang senyum simpul dibibir mungilnya.
Beberapa daun gugur di atas kepala
kami. Satu daunnya jatuh menimpa bahu Akiko, aku mengambilnya.
“ Ini adalah bukti pertemuan kita
saat ini. Akan aku simpan.” Aku menyusun kalimat sedemikian rupa dalam bahasa
jepang, walau mungkin terlihat aneh bagi Akiko, dan bahasa tubuh juga dapat
digunakan.
“ Wakatta.” Oke, jawabnya singkat.
“ Ja ne!” sampai nanti, aku melambai kearahnya. Ia juga membalas lambaianku
dibawah payung putihnya. Aku kembali ke penginapan sekitar kota.
***
“ Apa kau akan menjadikannya
pacarmu? “ Roby meledekku.
“ Kalau sekedar pacar sih tak apa,
asal jangan kau jadikan bini/istri.” Arif tertawa.
“ Memang ada apa? “
“ Mungkinkah kau tak mengetahui
tabiat gadis jepang? Yang akan membuangmu ketika kau sudah dianggapnya tak
berguna lagi.”
“ Tapi kurasa Akiko lain.”
“ Semua gadis jepang sama saja.”
Celetuk Roby.
“ Bahkan mereka rela menyerahkan
kehormatannya pada teman lelaki. Itu jika kau pandai merayu.” Arif menambahkan.
“ Tidak semua gadis jepang seperti
itu.” Sangkalku.
“ Coba saja kau tanyakan langsung.
Tapi ingatlah. Jangan sekali-kali kau bilang aishiteru padanya, itu berarti kau
ingin menikahinya.”
Aku terngiang-ngiang dengan
perkataan-perkataan kawanku. Benarkan gadis jepang seperti itu.
***
Malam datang. bulan sudah tak
sepenuhnya bulat. Namun masih cukup terang. Aku dan Akiko duduk di kursi taman
bawah pohon momiji. Aku hanya diam disana, sedangkan Akiko memandangi daun-daun
merah tersorot lampu. Masih terus pikiran ini teringat dengan kata-kata Arif
dan Roby. Semilir angin kecil menggelitik ujung-ujung rambutku. Menerpa
kulitku. Akiko menunduk, sedikit meringkuk.
“ Kau kedinginan? Ya, memang.
Padahal ini gugur.” Aku memeluknya dari samping. Ia masih terus diam dalam
malam. Aku memandangi bibir mungilnya yang beku. Menyentuhnya, dan mendekatkan
wajahku terhadapnya. Namun, tidak, sama saja aku merendahkannya jika
mendekatkan bibirku padanya.
“ Katakan kalau kau berbeda dengan
gadis jepang lainnya. Yang........”
“ Husshh..” Akiko menutup bibirku.
Ia mendekatkan wajahnya pada mukaku. Mencium dahiku.
“ Ya, memang kau tidak seperti
mereka.” Aku tersenyum.
“ Daisuki desu.” Aku menyayangimu.
“ Benarkah? Kita baru bertemu
beberapa waktu. Sepuluh hari terakhir ini.”
“ Hai.” Iya.
“ Berjanjilah padaku. Kau akan
selalu berada pada naungan payung putihmu.”
“ Onegai shimasu...” ku mohon. Kataku padanya. Wajahnya
nampak berbinar, bibirnya sudah tak beku lagi. Ia tersenyum padaku.
Beberapa lembar daun momoji jatuh
dari dahannya. Cahaya bulan tak penuh menerobos melalui celah-celah dahan, dan menyorot
ke arah mata Akiko. Ia menangis.
“ Kau menangis? “
“ Aku hanya teringat untuk
mengasihani diriku sendiri ketika musim gugur datang.”
“ Kenapa? “
“ Semua orang yang kusayangi pergi
di musim gugur.”
“ Kenapa harus di musim gugur
seindah ini?”
“ Entahlah. Aku juga tak tahu.
Mungkin karena aku ini Akiko. Jadi, berjanjilah juga padaku agar tak
meninggalkanku.” Ia memegang tanganku erat. Seolah hanya aku yang Akiko miliki.
***
Di sebuah bandara internasional
Narita. Aku gundah, bukankan malam itu aku telah diminta untuk tidak
meninggalkannya. Tapi kenapa aku melenggang ke bandara ini.
“ Kau kenapa sob? “
“ Jangan bilang kalau kau menyukai
Akiko dan ingin tetap disini.”
“ Memang kenapa kalau aku menyukai
dia? “
“ Aishhh...”
Aku membuka kacamata hitamku.
Melihat ke arah sekitar, berharap sosok itu muncul di hadapanku.
“ Dani...” sebuah suara lembut
datang dari balik tubuh.
“ Akiko..... maaf.”
Aku dan dia terjebak dalam kisah
cinta yang rumit. Begitu banyak perbedaan di antara kami. Mungkinkah....?
“ Kenapa melanggar janji? “
Aku terdiam, dan mengeluarkan
selembar daun momoji yang saat itu aku ambil.
“ Lihatlah, daun itu akan gugur
lagi.....” celetuk Akiko.
“ Akiko, pepatah indonesia
mengatakan kalau cinta itu tidak harus memiliki.”
“ Benar. Namun cinta itu harus
memahami. Akankah ada alasan untukmu kembali padaku? “
“ Akiko......” aku menatapnya sedih,
bulir air menghiasi sudut matanya.
“ Ingatlah, manusia hidup untuk
menerima tantangan yang ada. Perbedaan bukan sebuah kesenjangan karena hidup
adalah ujian, bukan tujuan.”
“ Akiko, maafkan aku. Aku pasti akan
kembali karena aku selalu mengingatmu.”
“ Bagaimana kau akan mengingatku,
bahkan disana tak ada musim gugur. Semoga ada alasan untukmu kembali padaku.”
Ia beringsut dari hadapku, berjalan sendiri sambil membawa sebuah payung putih.
Aku hanya terdiam, memegang lengan koper dan memandangi daun momoji ditangan
yang telah layu kering.
“ Kita segera berangkat!” Roby
memanggilku.
“ Aku tahu!”
“ Ya sudah, cepat! “
“ Bukan! Aku tahu artinya. Akiko
berarti musim gugur! Dan aku takkan membuat musim gugur yang akan datang
menjadi musim gugur menyedihkan baginya.”
“ Apa maksudmu?!”
Aku tak menghiraukan seruan dari
kedua kawanku. Aku lantas berlari mengejar sosok Akiko yang berjalan keluar
bandara.
“ Aku tahu! Aku tahu alasannya! Aku
punya alasan untuk kembali!” aku berseru dalam hati.
Seperti memiliki hubungan batin,
Akiko membalikkan badannya, melihat ke arahku yang berlari mendekat. Tangisnya
berkamuflase menjadi senyuman. Senyum seindah musim gugur.
“ Aku tahu, aku punya alasan untuk
kembali padamu. Akiko.”
“ Maksudmu? “
“ Tunggu aku di musim gugur yang
akan datang.”
Dan yang sakral mungkin akan
terjadi. Menapaki bersama altar pilihan kami, ini memang sebuah pilihan. Karena
hidup adalah sebuah pilihan. Bersama bahagia, memasuki sebuah pintu baru,
dan berpegangan tangan.
-Selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar