Jumat, 13 September 2013



Sisyphus
Birokrasi tak ubahnya sebuah bentuk kekuasaan berlabel majikan, dan segala diluar dirinya adalah pembantu rumah tangga yang pantas diatur. Tidakkah sebagai seorang jongos  yang ditindas dibolehkan bunuh diri?
Hakim itu melirik panas ke arah Samsudin yang duduk di kursi pesakitan yang empuk itu. Tangannya terus bermain kuku, menyayat kulit-kulit mati disana.
“Saya tidak membunuh, Pak Hakim?” untuk kesekian kalinya, Samsudin menjawab demikian. Bahkan penyebab kematian Darman tidak diketahui oleh Samsudin. Ia hanya si awam yang terjebak ke dalam lembah sisypus.
“Emang si Darman mati ngapa?!” Samsudin menengok kearahku, khas dengan logat ngapaknya.
“Lha mana saya ngerti, ngerti-ngerti Darman sudah mati gitu.”
“Lha kenapa bisanya aku yang dituduh membunuh?”
Aku hanya mengangkat sedikit bahu. Daguku pula menjinjing sedikit.
“Saudara SAMSUDIN!” Hakim itu menurunkan sedikit posisi kacamatanya. Samsudin hanya terperanjat lugu.
“Mendingan kita tanyai si Darman, dia mati si ngapa?” Usulku dengan wajah lugu ala desa.
“Wah, ide yang bagus.” Samsudin mengacungkan jempol padaku, tubuhnya pula hendak beringsut dari kursi pengadilan. Namun tertahan.
Persidangan sungguh rumit berjalan. Anak istri Samsudin tak hadir disana, mereka sibuk menghitung laba dari penjualan sapi beberapa minggu yang lalu, sebelum Darman meninggal.
“Bukan! Bukan! Jangan saya si ngapa?” Darman berkelit, ia meringkuk-ringkuk menyingkir dari hadapan Pak Danu.
“Halah! Terima saja si ngapa? Rejeki itu.” Aku menimpali.
“Pokoknya saya ndak mau si!”
Pak Danu beringsut dari ruang tamu sempit itu. Rumah Darman memang terlampau mungil. Ruang tamu yang hanya sekian meter saja masih ditimpangi sebuah televisi 14 inci hitam putih. Alas rumah masihlah berupa tanah telanjang, sehingga semua tamu yang datang tak perlu melepas sepatunya. Malah harus dipakai!
Mobil Pak Danu sudah berlalu dari halaman rumah Darman. Darman melongok sedikit dari balik jendela. Aku hanya heran terhadapnya. Lalu ia duduk kembali dan menyeruput kopi pahit buatan istrinya, Darsih.
“Sudah tahu kopi pahit kok ya diminum?” aku  melirik heran pada Darman.
“Lha ngapa si? Kopi memang pahit!” Darman berseru, sedikit air kopinya berleleran didagu.
“Huh! Kenapa bapak ndak ambil tawaran Pak Danu?” Darsih menyembul dari dapur. Air mukanya nampak kecewa pada suaminnya.
“Lha emang ngapa si?”
“Bapak itu buta atau tuli! Lihat! Kopi pahit seperti itu masih bisa ngmong ‘ngapa si?’” Darsih naik pitam merasai suaminya yang dia pikir kolot.
“Lha memang kopi itu pahit mbok*?” Darman melihat aku dengan sudut matanya, ia ingin aku mengiyakan perkataannya.
Esok harinya Darman kaget, ia terperanjat! Tahu-tahu tanpa sepengetahuannya, ada tiga ekor sapi di kandangnya yang telah lama kosong.
“Ini si sapi siapa si?” Darman berseru kearah rumah. Aku berlari kecil dari balik kandang, sekantung plastik hitam aku gantung disana, kantung dari Pak Danu.
“Sapi si Darsih lah kang?” jawabku.
“Lha kapan si Darsih beli sapi? Dia ndak punya uang mbok?”
Aku menggeleng saja, ya karena sudah lama juga aku tidak mengangguk, tulang leherku sakit. Hahaha.
“Ngapa si Kang? Jangan teriak-teriak mbok?” Darsih muncul dari arah rumah.
“Lha biar si, Samsudin juga yang tak suruh merumput, bukan sampeyan mbok?” Darsih melanjutkan pembicaraannya.
“Tapi ini si sapi siapa?”
“Ndak perlu tahu kamu kang!”
Aku mencuri pandang saja pada sepasang suami istri itu. Aneh, pikirku. Lantas aku melihat Darman beralih, ia meraih caping dan sabitnya. Akan pergi ke sawah, pikirku. Tapi aku salah.
“Mau kemana kamu kang?” Tanyaku.
“Rumah si Danu!”
“Lha mau ngapa si?”
“Mau ngapa-ngapa itu urusanku mbok?”
Ketika itu langit sedikit mendung. Namun matahari masih menyengat. Kalaupun hujan, bakal jadi hujan tokek, pikirku.
“Danu! Danu! Ambil sapi-sapi sampeyan!” Darman berseru sambil mengacung-ngacungkan sabit yang tampak tajam baru diasah itu.
“Apa ini! Kenapa?” Pak Danu yang muncul lantas berseru kaget.
“Jangan dikira saya ndak tahu pekerjaanmu! Ambil sapi-sapi itu sekarang!”
Tanpa pikir panjang lagi, Darman beringsut kearah kantor desa. Disana ia jadi bahan tontonan.
“Jangan dikira saya ndak tahu pekerjaan kalian semua! Dasar pengkhianat! Pengkhianat semua!” Darman berteriak-teriak. Seisi kantor melirik sinis pada Darman. Aku yang berusaha menenangkannya, hanya pula menjadi bahan olokan petugas desa.
Sesungguhnya Darman adalah seorang yang jujur, baik akhlaknya. Namun semua sering berpersepsi salah terhadapnya. Mentang-mentang Darman tak lebih dari seorang jongos!
Senja merapat. Terdengar tangis dari arah rumah Darman.
“Kang..!” Darsih menjerit pilu. Warga sekampung berdatangan, pula diriku.
“Bapak?” Didin, anak Darman hanya tertegun melihat tubuh bapaknya tertelungkup di dalam kandang sapi. Kantung hitam itu telah tercecer di samping tubuh Darman.

-selesai-
Keterangan:
*kan?





                                         Payung putih gadis Jepang

            Ketika itu pertengahan sepetember di Jepang, sekitar tanggal 15. Dikenal sebagai waktu purnama yang terindah. Langit malam yang kelam berkamuflase menjadi malam yang ceria bermandikan sinar bulan. Mereka yang menikmati sinar bulan di kenal dengan tsukimi, sembari menikmati kue moci tsukimi yang lezat. Musim gugur yang begitu nyaman di Jepang, daun-daun yang bertengger di pohon juga berwarna warni kala itu. Waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Menikmati secawan teh hangat, di tepi pedesaan indah yang masih asri di sebuah kota tua, yaitu kota Nara. Kota Nara adalah sebuah kota yang masih berwujud pedesaan dengan rumah-rumah sederhana. Tiada gedung-gedung tinggi seperti di Tokyo ataupun Osaka. Banyak terdapat kuil dan cagar budaya. Inilah titik keindahan kota Nara, kota yang sering disebut dengan kota shika, yang berarti rusa.
            Di waktu fajar, dikala bulan telah berganti dengan matahari. Warna-warni daun musim gugur nampak terang. Berjajar sepanjang jalan. Pohon momiji salah satunya, yang elok dipandang mata, ketika batang pohonnya berwarna gelap sedangkan daun-daunnya berwarna kuning, merah, emas, ataupun coklat. Lama kelamaan daun-daun itu akan mengering, lalu gugur.
            “ Sudah selesai ambil gambar belum? “ tanya sahabatku, Arif.
            “ Hei..!! kau dengar aku tidak!”
            “ Eh, iya sudah.” Aku jatuh dalam lamunan sesaat, menikmati keindahan suasana gugur di kota Nara.
            Mengemasi kamera. Bersiap pindah ke lain tempat.
            “ Sebentar..!” seru kawanku yang lain.
            “ Kenapa?”
            Aku melihat sosok putih berpayung putih berjalan diantara pohon momiji. Anggun.
            “ Cantik..” celetuk Roby, kawanku yang agak sedikit badung.
            “ Benar.” Aku mengiyakan perkataan Roby.
            “ Ohayo.....” selamat pagi. Gadis jepang itu menyapa kami bertiga.
            “ Ohayo..” jawab kami seadanya. Walau kami adalah seorang mahasiswa jurusan sastra jepang, namun boleh dikatakan, bahasa jepang kami nol.
            Aku terhenyak. Teriakan-teriakan itu memekakan telingaku. Pikiranku membawaku ke masa itu. Ketika aku menemukan seorang gadis di sudut bandara.
            “ Biarkan saja dia, toh dia orang jepang ini...” Roby dan Arif berjalan menuju taksi.
            Aku yang tak tega melihatnya, lalu memberikan jaket yang aku kenakan, serta beberapa lembar mata uang jepang padanya. Hanya sekilas melihat wajah yang tertutup rambut lurus itu.
            “ Arigatou...”
            “ Dare?”  siapa.
            “ Akiko....”
            “ Watashi wa Dani.” aku Dani.
            “ Thanks, you have helped me at that time.” Terimakasih, kamu sudah menolongku saat itu.
            Aku teringat gadis yang aku tolong saat di bandara. Ya, itu gadis ini, yang berdiri di hadapanku sekarang. Akiko. Aku tersenyum lebar.
            Berpayung putih, aku dan akiko berjalan-jalan di sekitar jajaran pohon momiji. Bercakap satu sama lain, walau terkadang kami tak saling mengerti dengan bahasa yang di gunakan. Akiko. Wajahnya tirus, putih, badannya kurus, dan berambut lurus panjang. Sorot matanya begitu indah ketika tertimpa sinar matahari pagi musim gugur.
            “ Kirei.” Cantik,celetukku pada Akiko.
            “ Kakkoi.” Tampan, ia memajang senyum simpul dibibir mungilnya.
            Beberapa daun gugur di atas kepala kami. Satu daunnya jatuh menimpa bahu Akiko, aku mengambilnya.
            “ Ini adalah bukti pertemuan kita saat ini. Akan aku simpan.” Aku menyusun kalimat sedemikian rupa dalam bahasa jepang, walau mungkin terlihat aneh bagi Akiko, dan bahasa tubuh juga dapat digunakan.
            “ Wakatta.” Oke, jawabnya singkat.
            “ Ja ne!” sampai nanti, aku melambai kearahnya. Ia juga membalas lambaianku dibawah payung putihnya. Aku kembali ke penginapan sekitar kota.
***
            “ Apa kau akan menjadikannya pacarmu? “ Roby meledekku.
            “ Kalau sekedar pacar sih tak apa, asal jangan kau jadikan bini/istri.” Arif tertawa.
            “ Memang ada apa? “
            “ Mungkinkah kau tak mengetahui tabiat gadis jepang? Yang akan membuangmu ketika kau sudah dianggapnya tak berguna lagi.”
            “ Tapi kurasa Akiko lain.”
            “ Semua gadis jepang sama saja.” Celetuk Roby.
            “ Bahkan mereka rela menyerahkan kehormatannya pada teman lelaki. Itu jika kau pandai merayu.” Arif menambahkan.
            “ Tidak semua gadis jepang seperti itu.” Sangkalku.
            “ Coba saja kau tanyakan langsung. Tapi ingatlah. Jangan sekali-kali kau bilang aishiteru padanya, itu berarti kau ingin menikahinya.”
            Aku terngiang-ngiang dengan perkataan-perkataan kawanku. Benarkan gadis jepang seperti itu.
***
            Malam datang. bulan sudah tak sepenuhnya bulat. Namun masih cukup terang. Aku dan Akiko duduk di kursi taman bawah pohon momiji. Aku hanya diam disana, sedangkan Akiko memandangi daun-daun merah tersorot lampu. Masih terus pikiran ini teringat dengan kata-kata Arif dan Roby. Semilir angin kecil menggelitik ujung-ujung rambutku. Menerpa kulitku. Akiko menunduk, sedikit meringkuk.
            “ Kau kedinginan? Ya, memang. Padahal ini gugur.” Aku memeluknya dari samping. Ia masih terus diam dalam malam. Aku memandangi bibir mungilnya yang beku. Menyentuhnya, dan mendekatkan wajahku terhadapnya. Namun, tidak, sama saja aku merendahkannya jika mendekatkan bibirku padanya.
            “ Katakan kalau kau berbeda dengan gadis jepang lainnya. Yang........”
            “ Husshh..” Akiko menutup bibirku. Ia mendekatkan wajahnya pada mukaku. Mencium dahiku.
            “ Ya, memang kau tidak seperti mereka.” Aku tersenyum.
            “ Daisuki desu.” Aku menyayangimu.
            “ Benarkah? Kita baru bertemu beberapa waktu. Sepuluh hari terakhir ini.”
            “ Hai.” Iya.
            “ Berjanjilah padaku. Kau akan selalu berada pada naungan payung putihmu.”
            “ Onegai shimasu...” ku mohon. Kataku padanya. Wajahnya nampak berbinar, bibirnya sudah tak beku lagi. Ia tersenyum padaku.
            Beberapa lembar daun momoji jatuh dari dahannya. Cahaya bulan tak penuh menerobos melalui celah-celah dahan, dan menyorot ke arah mata Akiko. Ia menangis.
            “ Kau menangis? “
            “ Aku hanya teringat untuk mengasihani diriku sendiri ketika musim gugur datang.”
            “ Kenapa? “
            “ Semua orang yang kusayangi pergi di musim gugur.”
            “ Kenapa harus di musim gugur seindah ini?”
            “ Entahlah. Aku juga tak tahu. Mungkin karena aku ini Akiko. Jadi, berjanjilah juga padaku agar tak meninggalkanku.” Ia memegang tanganku erat. Seolah hanya aku yang Akiko miliki.
***
            Di sebuah bandara internasional Narita. Aku gundah, bukankan malam itu aku telah diminta untuk tidak meninggalkannya. Tapi kenapa aku melenggang ke bandara ini.
            “ Kau kenapa sob? “
            “ Jangan bilang kalau kau menyukai Akiko dan ingin tetap disini.”
            “ Memang kenapa kalau aku menyukai dia? “
            “ Aishhh...”
            Aku membuka kacamata hitamku. Melihat ke arah sekitar, berharap sosok itu muncul di hadapanku.
            “ Dani...” sebuah suara lembut datang dari balik tubuh.
            “ Akiko..... maaf.”
            Aku dan dia terjebak dalam kisah cinta yang rumit. Begitu banyak perbedaan di antara kami. Mungkinkah....?
            “ Kenapa melanggar janji? “
            Aku terdiam, dan mengeluarkan selembar daun momoji yang saat itu aku ambil.
            “ Lihatlah, daun itu akan gugur lagi.....” celetuk Akiko.
            “ Akiko, pepatah indonesia mengatakan kalau cinta itu tidak harus memiliki.”
            “ Benar. Namun cinta itu harus memahami. Akankah ada alasan untukmu kembali padaku? “
            “ Akiko......” aku menatapnya sedih, bulir air menghiasi sudut matanya.
            “ Ingatlah, manusia hidup untuk menerima tantangan yang ada. Perbedaan bukan sebuah kesenjangan karena hidup adalah ujian, bukan tujuan.”
            “ Akiko, maafkan aku. Aku pasti akan kembali karena aku selalu mengingatmu.”
            “ Bagaimana kau akan mengingatku, bahkan disana tak ada musim gugur. Semoga ada alasan untukmu kembali padaku.” Ia beringsut dari hadapku, berjalan sendiri sambil membawa sebuah payung putih. Aku hanya terdiam, memegang lengan koper dan memandangi daun momoji ditangan yang telah layu kering.
            “ Kita segera berangkat!” Roby memanggilku.
            “ Aku tahu!”
            “ Ya sudah, cepat! “
            “ Bukan! Aku tahu artinya. Akiko berarti musim gugur! Dan aku takkan membuat musim gugur yang akan datang menjadi musim gugur menyedihkan baginya.”
            “ Apa maksudmu?!”
            Aku tak menghiraukan seruan dari kedua kawanku. Aku lantas berlari mengejar sosok Akiko yang berjalan keluar bandara.
            “ Aku tahu! Aku tahu alasannya! Aku punya alasan untuk kembali!” aku berseru dalam hati.
            Seperti memiliki hubungan batin, Akiko membalikkan badannya, melihat ke arahku yang berlari mendekat. Tangisnya berkamuflase menjadi senyuman. Senyum seindah musim gugur.
            “ Aku tahu, aku punya alasan untuk kembali padamu. Akiko.”
            “ Maksudmu? “
            “ Tunggu aku di musim gugur yang akan datang.”
            Dan yang sakral mungkin akan terjadi. Menapaki bersama altar pilihan kami, ini memang sebuah pilihan. Karena hidup adalah sebuah pilihan. Bersama bahagia, memasuki sebuah pintu baru, dan  berpegangan tangan.

-Selesai-